Tampilkan postingan dengan label my ff. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my ff. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juli 2013

[FF EXO] Tararam potre part 2 - fanfiction - kris exo

*first*


Main Cast      : Wu yi Fan a.k.a Kris
                        Kang Je Ah as readers
Genre            : Fantasi, Romance, multicapter 
Author           : Isnapcy


Annyeong readers ! ^^ Author kembali dengan part  ke 2 Tararam potre yang mungkin aneh, sulit dimengerti -_-v Author lagi berusaha dan mencoba membuat cerita dengan genre berbeda. Hasilnya jelek? Mianhae… Author mohon maaf sebesar-besarnya kepada semua readers yang merasa kecewa atas semua ketidaknyamanannya. -_-v

Oleh karena itu, author mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun cerita ini dan dengan begitu semoga saja hasilnya bisa lebih bagus. Oke cukup coleteh dari author. Let’s read it and then give me ur advises and critics.
Don’t forget to follow my twitter @Isnapcy95 ^^

@@@

/back to/
/author PoV/

“hey !” seru seorang yeoja lagi pada seorang namja yang tidak pernah dia lihat, kali ini dengan suara yang lebih lantang, setelah dia berkelebat dengan ingatan masa lalunya yang masih menghantuinya hingga saat ini.


Namja itu kemudian menolehkan wajahnya ke arah yeoja itu. Yeoja itu dapat melihat dengan jelas wajah namja itu. Tampan ! Tampan sekali ! Tatapan matanya tajam. Saraf okulomotorik, Troklear dan saraf Abdusen yeoja itu tidak bekerja sinkron sepertinya ketika menatap mata namja itu. Urat-urat nadinya serasa mengendur, tenaganya bagai habis terkuras. Matanya hampir menandingi kekuatan medusa, hingga yeoja itu diam membatu seketika.

Baru pertama kalinya yeoja itu melihat namja setampan itu, ditambah lagi dengan perawakannya yang tegap dan dadanya yang bidang menambah daya tariknya yang sudah mempesona semakin mempesona. Yeoja itu  terlarut dalam pikirannya sendiri untuk beberapa saat.

Hingga…..

“Hey ! Kang Je Ah ! Sadarlah ! namja itu mungkin saja berbahaya untukmu. Kau harus berhati-hati dengannya. Akan lebih baik lagi untukmu jika kau menjauh dari namja itu. Disaat terdesak kau tidak bisa memakai kepandaianmu menghitung sudut ataupun sejenismu. Dia seorang namja yang berukuran tubuh yang lebih besar darimu. Dan… dia juga tampan. Itu bisa membuatmu lengah… terlebih lagi kau hanya mempunyai peluang yang kecil tidak akan cukup menjanjikan keselamatanmu” seru salah satu sudut pikirannya.



“Kang Je ah kau tidak berpikir untuk melepaskan petualangan barukan. Ini pasti akan menyenangkan sekali. Kau bisa menerka kalau semuanya akan begitu menegangkan. Bukannya kau menyukai hal-hal yang berbau seperti itu. hmm. ” seru sudut pikirannya yang lain.

“Jangan coba-coba beradu adrenalin lagi. Keselamatannmu terancam ! Pergi ! pergi menjauh Kang Je ah” seru yang satunya lagi.

“Keselamatanmu terancam ? haha it’s so funny. Hidup matimu sudah ditakdirkan jangan takut Kang Jeah. Kau percaya itu kan?”


“Takdir ? memang takdir telah ditentukan… tapi itu juga kurang menjanjikan keselamatan nyawamu. Bukankah nyawa lebih berharga dari segalanya.  Dan bagaimana kalau seandainya yang terjadi takdirmu kali ini adalah kau harus mati? Palli ! Pergilah menjauh ! Hindari hal yang terburuk”


Je ah merasa bingung harus melakukan apa karena adanya bisikan-bisikan di pikirannya yang memerintahkan dan memintanya untuk melakukan dua hal yang berbeda sekaligus. Selama perkelebatan pikiran apa yang harus dia lakukan saat itu… je ah dikejutkan oleh seruan namja yang menjadi pokok persoalan dan membuat pikirannya menjadi bertentangan..

“who are you? Why u tailing me? ah, you’re my fan, aren’t you ?” namja itu melontarkan sederet kata-kata dalam bahasa Inggris dengan aksen yang terdengar sangat kental. Suara beratnya terdengar manly, walau ada nada kasar dan marah didalamya.. entah setan apakah yang merasuki pikirannya.. je ah menyimpulkan namja dihadapannya itu orang baik...


“Mwo?” seru Kang Jeah. Dia tidak percaya apa yang baru saja dia dengar dari mulut namja yang ada di hadapannya.

"baik apa?? dia kasar begitu///"gumam je ah lagi dalam hati dengan perasaan kesal dan menyesal tentang apa yang baru dia pikirkan beberapa saat yang lalu..

Kang jeah pun sontak membalikan badannya dan merapikan kembali topinya yang sudah tampak rapi dan menyapu setitik keringat di keningnya. Masih dengan perasaan kesalnya dia menjauhi namja yang dinilainya aneh itu tanpa berucap sepatah katapun menaggapi ucapan namja tadi.


“Aissh, jinja ! wajahnya saja yang tampan tapi dia tidak mempunyai rasa kemanusiaan (?). Bisa-bisanya dia langsung menuduhku mengikutinya apalagi dia berkata dengan nada sekasar itu. Ok ! Kalau dia sedang tidak ingin diikuti dan dia merasa diikuti olehku ataupun orang lain, tapi setidaknya dia seharusnya bisa bersikap lebih ramahlah padaku, kepada seorang YEOJA.” umpatnya seraya terus melangkahkan kakiku menuju arah yang berlawanan dengan namja itu.


“Eh? Tunggu dulu? Yeoja? Andwee !! Jangan-jangan dia mengiraku namja hingga dia bersikap kasar padaku. Eottoke?” gerutunya.

“Haruskah aku mendekati namja itu lagi dan menunjukan kalau aku ini yeoja?? Kurasa itu bukanlah penyelesaian yang baik” pikirnya.


“aishh ! jinjaa… menyebalkan sekali namja itu” teriaknya seraya menghentakan kakinya ditanah meluapkan rasa kesalnya. Kang Je ah bukanlah yeoja yang jika kesal akan mudah melupakan kekesalannya begitu saja. Setidaknya dia akan merenungkannya selama beberapa hari dan malam mencari solusi agar apa yang dia inginkan bisa terlaksana. Keras kepala !

dan... setelah beberapa hari terlewati dan selama itu dia tidak pernah bertemu atau bahkan melihat ujung kuku namja itu sekalipun,, je ah akhirnya menyerah dan sepertinya mulai berpikiran rasional..

 "ah tapi.... apa peduli ku??" pikir je ah lagi... " dia tidak mengenalku ataupun terkait denganku... apa yang kupermsalahkan???" tanyanya pada diri sendiri,,



@@@
/Kang Jeah PoV

Sesaat aku hampir tiba dipekarangan rumahku, Soohyun ahjumma langsung menghampiriku. “neo gwenchanayo” dia membalik-balikan badanku, Mengamati setiap inchi tubuhku dari atas hingga ke bawah. Raut wajahnya nampak cemas, sepertinya dia ingin memastikan aku tidak melakukan hal-hal aneh yang dapat membuatku kembali dalam bahaya.

“Nan gwenchana, ahjumma”. Aku sungguh tidak habis pikir mengapa Soohyun ahjumma begitu mengkhawatirkanku. Tidak pernah ku lihat wajahnya sepanik itu.


Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan dia lantas kembali memutar-mutar dan membalikan badanku, mengamati apakah aku benar-benar baik-baik saja. Aku merasa menjadi anak kecil kembali. Walaupun begitu aku bersyukur karena masih ada orang yang mengkhawatirkan aku.

“nan gwenchanayo, ahjumma sayang” kataku kembali menegaskan bahwa aku benar-benar baik-baik saja. “waeyo ahjumma?” tanyaku ketika kulihat sepertinya Soohyun ahjumma masih tidak mau mempercayaiku.


“ahjumma sangat takut kamu tidak kembali… emm…” kata-kata Soohyun ahjumma terpotong, dia sepertinya sedang memikirkan kembali apa yang baru saja dia lontarkan padaku.

“ne?” tanyaku seraya menatap mata Soohyun ahjumma.


“aniyo.. hehe.. kamu baik-baik saja ahjumma sudah sangat senang..” katanya lagi dengan sedikit terbata-bata dan senyum yang agak dipaksakan. Aku yakin sekali Soohyun ahjumma pasti sedang menyembunyikan sesuatu. Aku tahu betul dia bukan orang yang pandai menyembunyikan sesuatu. Walaupun demikian aku yakin kata-kata terakhir, kalau dia mencemaskanku itu benar-benar tulus. Ya jelas saja selama ini, jika appa dan umma pergi aku pasti akan tinggal bersama Soohyun ahjumma. Bahkan dia lebih seperti umma kandungku saja yang selalu ada jika aku membutuhkannya.


@@@


/Kang Je Ah’s room/

Aku masih terngiang wajah namja yang beberapa waktu yang lalu ku temui tanpa sengaja di sekitar semak belukar di ujung komplek rumahku. Entah mengapa wajahnya selalu muncul di benakku. Sepertinya hemisfer serebrum-ku bekerja dengan baik saat itu hingga aku bisa mengingat dengan jelas struktur wajahnya.

Aku juga masih belum mengerti kejadian di masa laluku, sewaktu aku masih sangat kecil. Kejadian itu sangat persis dengan apa yang baru saja ku alami tadi. Hanya saja namja itu tidak jatuh tersungkur, kesakitan, mengerang ataupun hilang tanpa bekas seperti halnya ahjushi yang kala itu ku temui.

Seperti biasa pikiranku kembali dipenuhi dengan runtutan pertanyaan yang semakin membuatku bingung. Runtutan pertanyaan yang bermunculan begitu saja dan selalu menuntutku untuk menemukan jawabannya. Ah, rasanya otakku terasa pecah. Mengapa terasa sulit untukku hanya menemukan jawaban pertanyaan. Padahal hanya pertanyaaan saja. Dia tidak memerasku ataupun meminta tumbal dan hal-hal yang sangat aneh padaku.


Kelenjar adrenalinku sepertinya benar-benar bekerja keras sekarang. Banyak hal yang harus dipikirkan, hormone adrenalin atau epinefrin harus terus menerus diproduksi saat-saat seperti ini, sehingga aku bisa tetap siaga menghadapi segala sesuatunya.


Walaupun dampak tidak langsungnya dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan penyakit hipertensi karena tekanan darah dan denyut jantung selalu berada dalam frekuensi tinggi. Tidak ada asam benzoate atau sejenisnya yang dapat membuat arteri ataupun vena yang ada di seluruh tubuhku tetap berfungsi dengan baik.



Detik demi detik terus berlalu aku tidak juga kunjung menemukan jawaban segala runtutan pertanyaan yang menghujam di kepalaku. Serasa tidak adil bagiku, pertanyaan datang tanpa kompromi, bukannya membuatku lebih baik malah menyisakan rasa penasaran yang sedikit menyiksa batin.



/A few hours later/

Udara dingin menyentuh kulitku, rambutku yang panjang serasa tersingkap diterpa angin dingin malam hari yang menghembus masuk melalui jendela kamarku yang terbuka. Rasanya terasa menggelitik kulitku dan kemudian mengusikku dari keterlelapanku. Dengan berat ku buka mataku yang sempat terpatri selama beberapa waktu, saat aku memasuki dunia mimpiku, alam bawah sadarku.


Tanpa sengaja aku melihat dengan jelas sesosok makluk dengan wajah dan perawakan seperti manusia dengan sayap seperti naga tengah berada di depan jendela kamarku. Aku tidak begitu yakin apakah benar apa yang baru saja ku lihat. Seperti yang ku ketahui hingga saat ini, naga itu hanyalah makhluk yang tidak pernah dapat dibuktikan kebenaran keberadaannya sepanjang sejarah bumi.


Dari berbagai sejarah disebutkan kalau naga hanya legenda dari kepercayaan beberapa suku tertentu saja. Dan merekapun tidak bisa membuktikan kebenaran keberadaannya. Hanya berdasarkan kepercayaan saja.

Walaupun ada beberapa kelompok masyarakat tertentu percaya akan keberadaannya hingga saat ini. Bahkan ada beberapa orang mengaku melihatnya secara visual. Tapi tidak pernah ada bukti kuat akan adanya keberadaan dan eksistensinya di muka bumi ini.

Sepertinya aku masih dalam alam bawah sadarku, pikirku. Aku lantas mencubit lenganku sendiri, dan tidak terasa sakit. Aku memang sedang dalam alam mimpi. Jadi biarlah sejenak aku berada disini sebentar menikmati pertualangan baru walaupun hanya dalam mimpi pikirku.


@@@

/flashback/

“Kris….”
Terdengar suara terdengar sayup-sayup. Entah darimana asalnya.

“Sial !” umpatku kesal. Bagaimana bisa kepalaku terasa berat seperti ini? Ada apa denganku? Aku tidak dapat melihat atau merasakan adanya kehadiran siapapun disekitarku. Kabut ! disekitarku dipenuhi oleh kabut tebal.

“bagaimana bisa aku berada ditempat ini?” gumamku dalam hati.

“kris…!!” suara itu terdengar lagi ditelingaku. Aku lantas mencoba bangkit. Perlahan ku kumpulkan tenagaku untuk menegakkan tubuhku mencari sumber suara.

Aku menolehkan kepalaku ke kiri dan kekanan, kemuka dan ke belakang (?) /emang bisa ya?/ tapi aku tetap tidak menemukan sosok seorang pun ada ditempat aneh ini. Ditempat yang hanya nampak ada kabut tebal dan seperti tidak ada kehidupan ini.
           
Perlahan kulangkahkan kakiku ke depan beranjak dari tempatku tergeletak semula.
“hey!” teriakku dengan suara sedikit tercekat. Sepertinya suaraku ikut-ikutan menghilang.

“anybody here!” teriakku sekali lagi. kali ini suaraku agak mulai kembali normal.
Hening ! setelah beberapa lama aku menunggu namun tidak ada suara yang menjawab pertanyaanku.
         
“anybody here ! please say something if u here !”

Aku terus berteriak sambil memasang baik-baik telingaku, namun tidak ada seorangpun yang menjawab. Sepertinya aku benar-benar terjebak ditempat aneh ini.
         
“please… save me… hhh”
Hah haah haahh.. dadaku terasa sesak. Kabutnya semakin tebal. Tidak hanya menggangu penglihatan tapi juga mengganggu system pernapasanku.

Wuuush ! angin berhembus semilir. Kabut disekitarku tiba-tiba memudar. Sebercak cahaya mulai tampak. Tak lama kemudian nampaklah sesosok wanita separuh baya dengan setelan baju era 90-an berwarna coklat yang tampak sedikit lusuh tapi menurutku cocok dengan tubuhnya yang tinggi semampai. Aku berani menerka wanita itu sepertinya bukan orang sembarangan. Dia pasti orang yang punya kedudukan. Tapi yang membuatku heran adalah apa yang tengah dia lakukan disini?

“kris…” wanita itu memanggilku sembari tersenyum lebar seakan dia telah mengenalku sejak lama sekali.

“Darimana kau mengetahui namaku ?” tanyaku heran sembari menatapnya tajam mencoba membaca ekspresi wajahnya.

            “haha. Tentu saja aku mengenalmu.” wanita itu lalu terkekeh kecil.
“kris.. kau tidak mengenaliku ?” serunya. Aku mengerutkan keningku. Aku berani bertaruh. Aku sangat yakin aku tidak pernah bertemu dengan wanita ini sebelumnya.

“baiklah kalau kau tidak mengingatku… aku tidak akan memaksamu kris…” katanya seperti dia bisa membaca pikiranku.

“tapi…”
Aku mendongakkan kepalaku kembali memandangnya. “tapi?” tanyaku heran.
Dia tersenyum simpul dan kemudian “jagalah dirimu baik-baik. Hiduplah dengan baik dan jangan berbuat jahat kepada orang lain. Untuk beberapa waktu dekat ini kau akan menghadapi kesulitan jadi berusahalah tegar, arra?”

Aku semakin mengernyitkan keningku. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dia katakan. Sangat sulit bagiku mencerna semua kata-katanya dengan baik.

“Apa maksud..?” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku apa daya wanita itu sudah menghilang tanpa jejak.


@@@
/a few days later/
Author pov

            Seorang namja berparas tampan dan berperawakan bidah dan gagah dengan pakaian serba hitam tengah menarik kopernya yang juga berwarna hitam dengan sedikit tergesa-gesa. Dia juga mengenakan kacamata hitam yang lumayan membuat orang yang melihatnya akan mengira dia adalah supemodel atau bahkan seorang pangeran. But actually he’s not a supermodel or a prince.





            Banyak orang yang ada disekitarnya memandang dengan pandangan kagum bahkan ada yang berteriak histeris.. tapi dia tidak menghiraukannya.. dia sedang mencari seseorang yang tentunya sudah lama tidak dia temui dan sudah lama menunggu kedatangannya saat ini..
“hello mom…” serunya pada seorang wanita yang tidak lain adalah ibunya. Yeah she’s his mom..!
“hello.. kris??” tanyanya agak ragu.
“hmm..” gumamnya pelan.
“are u really my son.. kris??” dengan pandangan tidak percaya dia melihat anak yang telah dibesarkannya selama ini.

“yes I am” katanya sembari menyuguhkan senyumnya. Sang ibu pun sontak memeluk anaknya itu saking rindunya dan sang anak membalas pelukannya.



“oh my god~ my son grown well now… look~ u’re so tall now… I miss u.. son” katanya tulus dan dengan tatapan rindu yang mendalam. Bagaimana tidak anaknya sekarang mulai menginjak dewasa.. ya 23 tahun sudah terlalu cukup untuk menyatakan dia bukanlah anak-anak dan remaja lagi.

“ I know. I miss u too mom” balasnya.
Sang ibu terlihat sangat terharu kali ini dan kembali memeluk erat anaknya itu. dan sang anak pun membalas pelukan erat ibunya hingga beberapa saat moment bahagia seperti itu.

“mom…” dia berseru lembut setelah beberapa saat terhanyut dalam suasana.

“yeah.. son..” jawabnya.

“I think we must go home now.. I tired, you know…”

“ah yes, sure my son…”

 To be Continued~

@@@


Gimana readers?? Jelek ya?? Mianhamnida -_-v author sudah berusaha.. karena itu please berikan komentar, kritik dan sarannya… I need it for evaluate and referention..
For readers who was read my ff I say thank you very much to read my ff….
Don’t foget to follow my twitter @isnapcy95 or follow my weibo @isna2717 and my tumblr @isnapcy too ~


Yang belum baca part 1 nya baca disini Tararam potre part 1



Rabu, 01 Mei 2013

[FF EXO] Tararam Potre - fanfiction of Kris EXO-M

recent : 01052013
06:07
Tararam Potre

Main Cast      : Wu yi Fan a.k.a Kris
                        Kang Je Ah as readers
Genre            : Fantasi, Romance
Author           : Isnawati (Isnapcy95) 

Hello, hello ^^ author kembali dengan membawa ff baru dengan genre yang sedikit berbeda. Author juga kali ini membawa Leader EXO-M, Wu Yi Fan a.k.a Kris sebagai Main cast-nya.

Ff ini terinspirasi dari cerita masa kecil Harry Potter dan cerita Vampire yang lumayan tren belakangan ini. FF ini penuh dengan hal-hal yang mungkin tidak masuk akal, banyak kata-kata atau istilah baru yang mungkin akan membuat readers menjadi bingung dan tidak mengerti jalan ceritanya. Sebagian kata-kata atau istilah itu memang sengaja author cantumkan dalam rangka mengingat pelajaran yang waktu author membuatnya author sedang dalam masa mendekati Ujian Nasional atau National Examination. Typo bertebaran dimana-mana, harap dimaklumi.
          Ok ! langsung saja tanpa banyak bacot lagi, silakan di baca ^^ hope u like it ^^

Happy reading ya :33 don’t forget follow me @Isnapcy95 at twitter. Thanks

@@@



          Ketakutan adalah hal yang berbahaya di kehidupanmu. Semua dapat berakhir hanya karena sedikit rasa takut. Semuanya memerlukan keberanian dan rasa percaya.

*Mr. Louis PoV*

          Aku harus segera menjauh dari pemukiman. Aku takut kemarah Dewa vampire (Mozaros) akan menghancurkan semuanya seperti hancurnya kota Bandung pada saat Bandung Lautan api (?)  Hirosima dan Nagasaki pasca di bom oleh Amerika Seikat /author jadi ngelantur ke sejarah-_-v/ mengorbankan banyak nyawa hanya karena aku ingin menyelamatkan isteri dan anakku. Aku tidak ingin bersifat egois setidaknya biarlah disana, ditempat dimana tidak terlalu banyak hal yang harus dikorbankan.

          Arrrgh !!


Apa yang terjadi padaku? Tiba-tiba saja energiku seperti terkuras.. kakiku melemah dan sepertinya mulai tidak mampu lagi menopang berat tubuhku.


Sial!! umpatku dalam hati. Padahal ini saat-saat yang sangat penting. Sangat penting bagi kelangsungan keluarga Louis dan sekelompok orang yang ada di sekitar sini. Aku harus mengalihkan perhatian mereka.. Jika tidak, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya kepada istri dan anakku. Aku tidak mau jika anak dan istriku dijadikan persembahan bagi dewa vampire. Aku tidak mau mereka terbunuh secara sadis karenanya.. darah mereka dimakan olehnya dan akibatnya kekuatannya semakin bertambah. Maka barang pasti, Dewa vampir akan semakin semena-mena pada semua vampire, dan kehidupan cinta vampire dan manusia tidak akan pernah dapat berlangsung dengan baik..

@@@

 @author PoV
/other place/

          Hhah.. hhahh ! “eottoke?? Apa yang harus aku lakukan?”

Hembusan napas yang memburu terdengar dari sesosok wanita yang kira-kira berumur sekitar 30tahun-an. Wajahnya terlihat sangat pucat, raut kecemasan, ketakutan dan lelah terlukis jelas di wajahnya. Pikirannya tengah bergulat hebat. Maklum saja dia tengah di kejar oleh beberapa Arka (sebutan bagi tangan kanan Dewa Vampir yang tugasnya menangkap dan menghukum siapa saja yang melanggar peraturan Kerajaan Vampir).


Aku harus menyelamatkan anakku pikirnya. Pikirannya sekarang sedang kacau dia tidak juga menemukan solusinya. Wanita itu hampir putus asa. Hidup dan matinya beserta anaknya sekarang di ujung tanduk, jaraknya dengan para Arka sekarang sudah sangat dekat.


Di dalam peraturan Arkaza (kerajaan vampir), vampire manapun tanpa kecuali apabila menikah dengan manusia maka dia akan dijadikan budak seumur hidupnya, hidupnya akan dibuat selalu berada dalam tekanan, apabila vampire itu mempunyai kekuatan maka kekuatannya akan diserap, sedangkan istrinya akan dibunuh di depan matanya sesadis-sadisnya, apabila pernikahannya menghasilkan seorang keturunan maka anak itu juga akan di bunuh seperti halnya sang ibu. – Arkazos 3 : 21


 “Ya Tuhan ! Tolonglah aku dan anakku saat ini, dan juga selamatkan suamiku.. setidaknya kalau ini adalah takdirku, saat terakhirku dan juga saat terakhir suamiku menghirup udara bumi ini, ku mohon biarkan anakku tetap hidup ” panjatnya disela puncak ketegangan, di tengah kalut yang melanda, disaat penghujung maut, saat-saat yang menentukan hidup dan matinya.


Entah Tuhan telah menjawab doanya saat itu juga. Tiba-tiba saja dia mendapatkan ilham. Dia melepaskan baju yang melekat dibadan bayinya, kemudian menyelimuti bayinya yang sekarang naked (?) agar tidak kedinginan. Lalu dia meletakkannya di sebuah kandang anjing, di tempat yang cukup aman hingga sampai ada orang yang menemukannya.


Dia meraih salah satu anjing kecil yang berada di kandang itu dan memasangkan baju bayinya pada anjing itu. setelah selesai dia kemudian memandang sebentar bayinya itu dan menciumnya, seakan dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan bayinya itu. hingga akhirnya dia beranjak pergi dengan perasaan berat dan tidak kuasa berpisah dengan anaknya.


Wanita itu terus berlari sekuat tenaganya dan masuk ke dalam sebuah mobil yang kebetulan saat itu sedang ditinggalkan pemiliknya dengan kondisi lengkap beserta kuncinya. Dia meletakkan bayi anjing yang telah dibawanya untuk mengelabuit para Arka yang tengah mengejarnya dan kemudian menghidupkan mesin mobil tersebut lalu membawanya meluncur ke arah jalan raya.


Dia terus mengemudi sambil memperhatikan para Arka yang kini berada beberapa meter saja lagi. makhluk apa mereka itu? pikirnya. Mengapa mereka sangat cepat? Ah, bagaimana dengan bayiku? Semoga mereka tidak menyadarinya ?


Sepertinya keajaiban benar-benar terjadi malam itu para Arka yang mengejar wanita itu tidak menyadari bayi laki-laki tidak berdosa itu. Mereka hanya mengejar wanita itu, atau sebut saja Ny. Wu Elis. Doa wanita itu terjawab. Doa seorang ibu memang mustajab pikirnya. Ada sedikit perasaan lega di dadanya.


Tapi ini bukan saatnya dia menghela napas lega, dia masih di kejar para Arka itu. tidak ada jalan lain, aku tidak mau mati secara sadis di hadapan suamiku. Lebih baik aku mati karena accident kecelakaan. Setidaknya bayiku sudah selamat pikirnya. Biarlah. Ini lebih baik ujarnya mantap.


 Wanita itu menginjak gasnya lebih kencang. Bruk ! bruk ! braak ! duar ! Mobil yang di kendarai wanita itu menabrak pembatas jalan, terlempar dan berguling-guling jatuh kebawah hingga kemudian berakhir dengan meledaknya mobil itu bersama isinya, hingga menyisakan onggokan arang dan besi hitam.


Para Arka itu tidak berani mendekat. Mereka takut pada api. Api merupakan lambang kekuatan Dewa  vampire (Mozaros).


“Mozaros sudah menghukumnya” seru salah seorang Arka itu, sepertinya dia adalah ketua para Arka itu. “ayo kita kembali mengejar Wuyi !” */Wuyi merupakan nama asli dari Mr. Louis dalam kehidupan para vampir/* para Arka itu segera beranjak pergi meninggalkan TKP (?).


@@@

/the following day/

Mentari mulai menyinari pagi kala itu. Ny. Wu tengah menyiapkan sarapan untuk suaminya Mr. Wu Yixin. Dia juga menyiapkan segala macam makanan peliharaannnya kemudian mulai beranjak membawa makanan-makanan itu ke tempatnya (?)


“Huek ! huek ! (?)” terdengar suara tangisan bayi. “seperti ada suara bayi?” gumamnya. Dia menajamkan pendengarannya mencoba menerka dimanakah sumber suara tangisan bayi yang didengarnya itu.


“Emm, mungkinkah itu suara bayi tetangga?” gumamnya.
“tetapi kok suaranya terasa dekat sekali? Apa benar yang ku dengar?” dia terus bertanya-tanya dalam hatinya.


“Ah, mana mungkin itu bisa terjadi. Aku pasti telah lelah berharap keajaiban akan terjadi, hingga aku berhalusinasi seperti ini.” Pikirnya lagi seraya mendenguskan napasnya.


“Bayimu sudah tiada.. kau harus bisa merelakan kepergiannya, ara?” gumamnya, meyakinkan hati dan pikirannya. Nampaknya dia benar-benar lelah dengan harapan yang tidak kunjung juga menjadi nyata. Bagaimana tidak bayi pertamanya harus pergi meninggalkannya dan suaminya karena sakit keras. Wanita itu menyesali semua yang terjadi, masih tengiang di kepalanya saat-saat bersama dengan sang buah hati yang sangat dia cintai.


          One, Two, Three.. detik demi detik berlalu.. selama itu pula Ny. Wu bergulat sendiri dengan pikirannya. Tanpa sadar kalau suara tangisan bayi yang di dengarnya semakin jelas dan tidak juga kunjung berhenti, mengusiknya kembali.


          “ah, tidak mungkin jika itu hanya halusinasiku saja” pikirnya. Dia melangkahkan kakinya mendekati arah sumber suara yang didengarnya. Posisinya kini sudah sangat dekat, dekat dan terus lebih dekat. Dia mulai menoleh kesana kemari mencari dimanakah asal suara itu. Dia menoleh ke berbagai arah tetapi tidak kunjung juga menemukan apa yang dia cari.


“Aneh !” serunya. Betapa tidak terdengar suara tangisan bayi tapi tidak nampak dimanakah sosoknya. Dia berpikir kalau dia memang sedang berhalusinasi. Dia lalu membalikkan badannya dan mulai melangkahkan kakinya menjauh, tapi belum sampai beberapa langkah jauhnya dia memutuskan untuk kembali mengamati dan mencari lagi dimanakah sumber suara tangisan bayi itu.
         
@Ny. Wu PoV

Srek ! sreek !

Kulangkahkan kakiku mendekat ke sebuah kandang anjing di pekarangan rumahku. Aku masih saja bertanya-tanya atas pendengaranku. Kuperhatikan dengan seksama seluruh penjuru kandang itu.. tapi aku tidak juga menemukan sosok yang ku cari. Ah, tidak mungkin,, cerutukku. Aku memperhatika lagi seluruh sudut kandang itu, hingga akhirnya aku melihat sesosok bayi mungil, dengan paras yang elok, membuatku terpana melihatnya. Aku langsung jatu hati pada bayi itu.


Dengan perasaan bahagia aku meraih bayi itu ke dalam dekapanku. seketika suara tangisannya mereda. Seolah dia sudah lama menantikan pelukan hangat dari seorang ibu.  “ibu? Siapa ibunya? Kenapa dia ada di dalam kandang anjingku?” tanyaku pada diri sendiri(?) dalam hati seolah aku baru menyadari kalau bayi ini bukan bayiku Wu Yi Fan yang telah pergi.


Pipiku terasa panas. Air mataku kembali menetes dipipiku. Ingatan kembali tentang bayiku, yang sangat aku cintai yang baru saja pergi. Dalam hati yang  terdalam aku masih belum bisa merelakannya.


Tapi aku melihat ada sebuah harapan ketika melihat bayi mungil yang tengah ada di dekapanku. Aku bertekad untuk menjadikan dia sebagai pengganti Wu Yi Fan, bayi malangku itu. bayi ini pun akan aku namai dengan nama yang sama Wu Yi Fan.

@@@
/A few years later/

*Kang Je Ah PoV*

Semilir angin menyentuh kulitku.. aku masih saja mengutak-atik laptopku… aku benar-benar bosan di tinggalkan umma dan appa sendiri di rumah.. appa dan umma terus saja menyuruhku untuk diam di rumah selama mereka pergi sedangkan mereka bisa ke mana pun mereka inginkan.. sungguh terasa tidak adil bagiku..


          Ketika rasa bosanku kian memuncak dengan rasa mantap aku membereskan laptopku dan peralatan kesayanganku, aku segera menuju kamarku menapaki jalan dan tangga yang kadang membuatku jengkel saat-saat aku kepepet atau kesiangan.


Setibanya aku di dalam kamarku yang berada di lantai kedua ini, aku lantas membuka lemariku. Diantara banyak baju yang ada di dalam lemariku, aku lebih tertarik mengambil satu t-shirt coklat, jaket hitam, celana jeans dengan warna yang senada. Tidak membutuhkan waktu yang lama, aku mengganti baju yang tengah ku pakai dengannya.


Dengan perasaan mantap aku menghadap cermin besar yang ada di dekat pintu ruang bacaku. Ku lihat setelan yang sudah ku pakai sudah sangat cocok dengan hobbyku yang agak berbeda dengan remaja putri lainnya. Ku raih topi hitam yang tergantung indah di dinding lemari kayu persis di samping cermin besar yang tengah berada dihadapanku saat ini. Dengan terlebih dahulu ku gulung rambutku yang cukup panjang, ku lekatkan topi itu dikepalaku.


Kupandang sekali lagi cermin itu. “semuanya sudah perfect Kang Je Ah”.
Aku segera mengambil ranselku dan menggendongnya di belakangku. Aku hendak beranjak meninggalkan kamarku. Tapi aku masih merasakan ada sesuatu yang janggal. Aku memusatkan pikiranku mencari sesuatu yang janggal itu.


Aha ! Hampir saja aku melupakan salah satu atributku yang terpenting. Sepatu boot ! ya sepatu boot. Tanpanya aku tidak akan bisa menjelajahi daerah kekuasaanku (?). Ku ambil salah satu sepatu boot yang ku simpan di tempat tersembunyi dimana semua orang tidak mengetahuinya kecuali Tuhan, malaikat dan diriku sendiri tentunya. Aku tidak bisa membayangkan kalau sampai umma mengetahuinya. Tamatlah sudah riwayatku.


Dengan langkah kaki mengendap-endap, ku tenteng sepatu boot yang baru saja ku ambil. Sesekali ku lihat disekitarku, hanya memastikan tidak ada yang melihatku saat aku tengah melakukan aksi rahasiaku.


Setelah jarakku berada sudah cukup jauh dari pandangan rumahku, aku memasang sepatu boot hitamku.


Sreeek.. aku mendengar bunyi gemuruh angin menghembus lebih kencang sesaat.. dan kalau saja itu bukan halusinasiku.. aku seperti melihat sekelebat bayangan hitam bergerak menuju semak belukar yang ada di ujung kompleks rumahku. Bukan pesawat atau apapun, aku yakin sekali, karena aku tidak mendengar desingan mesinnya.


Jiwa penyelidikku menggerakkan tubuhku untuk melangkahkan kakiku mendekati bayangan hitam dan besar yang tahu apakah itu. Yang ku tahu, bayangan itu sedikit bergerak menjauh. Entah mengapa rasa penasaranku terus memaksaku untuk terus membuntuti ke mana bayangan itu bergerak.


Ku langkah kakiku lebih cepat dari semula, semakin cepat dan lebih cepat hingga akhirnya terlihatlah sesosok namja tinggi yang berdiri tidak begitu jauh dariku.. namja itu berperawakan tegap, dadanya bidang, wajahnya? Aku belum begitu yakin.. aku tidak begitu jelas melihat wajahnya.. aku melihatnya dari samping dan di sini tidak cukup banyak cahaya untukku melihat wajahnya dengan jelas dan terlebih lagi jarakku dengannya masih belum begitu dekat.


“hey..” panggilku. tapi sosok itu hanya diam membisu dan tidak menghiraukan pangilanku. Apa dia tidak mendengar panggilanku? Padahal menurutku suaraku sudah cukup nyaring dan jelas untuk di dengarnya. Atau dia itu mempunyai masalah pendengaran? Tapi bukan itu yang membuatku sangat penasaran. Siapa namja ini sebenarnya? Mengapa dia bisa berada di sini?


Berbagai pertanyaan atas rasa penasaranku semakin bermunculan padahal hanya berawal dari rasa penasaranku akan adanya sebuah bayangan hitam yang berkelebat. Rasa penasaran itu yang membuatku memutuskan untuk  melangkahkan kaki ku mendekatinya lagi dan aku berharap namja itu tidak bergerak menjauh dan menghilang sebelum aku bisa memuaskan jiwaku yang terus menerus mendesakku untuk mengetahui lebih banyak. Entah keberuntungan apa yang tengah ku dapatkan, namja itu hanya diam pada posisinya semula dia tidak bergeming sedikitpun.


Seperti ada sesuatu yang menghambat pergerakannya.. Dia tidak bergeming di tempatnya.. aneh ! itulah hal yang pertama kalinya munculku dalam pikiranku. Apakah dia sedang bereksperimen? Jika benar, sungguh sangat konyol sekali namja ini. Tidak sesuai dengan penampilannya. Atau dia menyadari keberadaanku ?


Cling ! Jutaan neuron dan sel-sel sarafku mulai bekerja. Mereka bekerja sama memunculkan ingatan masa laluku. Entah dalam kenyataan atau hanya hayalanku saja. Seperti piring yang baru dicuci dengan sunlight, memori masa kecilku tiba-tiba saja muncul. Hemisfer serebrumku memang selalu memberikan kejutan bagiku.


Yap! Ini bukan kali pertamanya aku melihat bayangan seperti itu. Aku pernah mengalami hal seperti ini.. kurasa itu yang membawaku hingga aku berada sampai sejauh ini.. tapi itu tejadi bukan di alam mimpiku.. de ja vu? Aku tidak percaya pada hal yang seperti itu.


/flashback/

Bruk !! Sesosok tubuh besar itu tiba-tiba roboh dan tersungkur  di atas tanah.. Mataku tiada henti-hentinya memperhatikan setiap inchi tubuh tinggi besar itu.. siapa ahjusshi itu? Dia sangat aneh.. Kenapa malam-malam begini ahjushi itu berlutut disana? Di tengah hutan yang sangat minim cahaya ini?  Hal yang paling membuatku heran kenapa tubuh yang terlihat sangat kokoh itu bisa roboh begitu saja? Padahal tadi pergerakannya sangat cepat. Sekarang ahjushi itu malah seperti kehilangan tenaganya..


Aku  memberanikan diriku meraih lengan bajunya yang panjang dengan jari-jari tanganku yang kecil mungil.. “ahjussi..” kataku menarik-narik bajunya, memperhatikan  wajahnya yang terlihat pucat.. ah entahlah atau hanya perasaanku saja wajahnya terlihat pucat.. aku juga tidak begitu yakin.. mungkin saja penglihatanku salah.. di sana tidak cukup banyak cahaya untukku melihat sosok itu lebih jelas..


Cling ! cahaya yang tampak terang tiba-tiba saja menyinari suasan hutan malam kala itu. sinar itu telalu menyilaukan, membuatku merasa sulit melihat. Tubuhku terasa berat, aku tidak dapat mengendalikan tubuhku, kakiku terasa lemah, aku tergeletak ditanah, tak berdaya. Sepertinya serebelumku enggan bekerja saat itu. Disisi lain, ditengah ketidakberdayaanku,  masih dapat kudengar suara erangan. Suara erangan kesakitan dari ahjusshi itu. Rupanya masih ada beberapa sarafku yang memaksa untuk tetap bekerja dan mengajak telingaku merekam suara yang dapat kudengar barang sebentar.


Tik ! tik ! akhirnya aku tidak sadarkan diriku. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Aku tidak tahu bagaimana nasib ahjushi itu. Aku tidak tahu mengapa saat aku kembali sadar, aku sudah berada di rumah. Tidak ada seorang pun yang tahu aku telah tidak sadarkan diri di hutan. Semua mengatakan aku hanya berada di rumah kala itu.


 Pertanyaan dan rasa heran, aneh, dan bingung masih membekas di benak dan hatiku hingga saat ini. Bagaimana mungkin kalau itu hanya bunga tidurku saja. Aku tidak bisa mencerna hal-hal yang seperti itu.


/back to/

“hey !” seruku lagi dengan suara yang lebih lantang, setelah perkelebatan ingatan masa laluku yang masih menghantuiku hingga saat ini.


Namja itu menolehkan wajahnya ke arahku. Terlihatlah dengan jelas wajahnya. Tampan ! Tampan sekali ! tatapan matanya tajam. Aku tidak bisa menatap matanya lebih lama. Saraf okulomotorik, Troklear dan saraf Abdusenku tidak bekerja sinkron ketika menatap matanya. Urat-urat nadiku serasa mengendur, tenagaku bagai habis terkuras. Matanya hampir menandingi kekuatan medusa.

That’s my first impression when I look at him. Baru pertama kalinya aku melihat namja setampan itu, ditambah lagi dengan perawakannya yang tegap dan dadanya yang bidang. Sosok namja yang sangat ideal dan popular saat ini. Aku sebenarnya tidak begitu menyukai tipikal namja seperti itu, tapi entah kenapa aku terpana sejenak, terlarut dalam pikiranku sendiri.

Hey ! Kang Je Ah ! Sadarlah ! namja itu mungkin saja berbahaya. Kau harus berhati-hati dengannya. Akan lebih baik lagi untukmu jika kau menjauh dari namja itu. Saat terdesak kau tidak bisa memakai kepandaianmu menghitung sudut ataupun sejenismu. Kau hanya membutuhkan peluang yang baik dan takdir. Seperti yang kau tahu peluang itu sangat kecil.

“who are you? Why u tailing me? ah, you’re my fan, aren’t you ?” namja itu melontarkan sederet kata-kata dalam bahasa Inggris dengan aksen yang terdengar sangat kental. Sepertinya namja ini bukan penduduk asli daerah ini gumamku, aku bisa menebak dari aksennya dia pasti berasal dari Canada atau kota sekitarnya. Terlebih lagi selama aku mengarungi wilayah favoritku ini, seingatku aku tidak pernah berjumpa atau bahkan melihatnya barang sekilas.

“Mwo?” seruku. Aku sungguh tidak bisa mempercayai apa yang baru saja ku dengar.

~To be Continued~


Bagaimana readers? Jelek ya? Hm, harap dimaklumi ya, author baru pertama kali membawakan ff genre fantasi romance seperti ini -__-v
Beberapa bagian dari cerita ini juga author ketik di sela-sela menuju UN, di tengah-tengah stress yang melanda, dan kemudian menjadi strain (?) /modulus young kali thor/
/banyak bacot lu thor/ /di tabok readers/
Thanks for readers yang sudi kiranya membaca ff nista nan abal ini -_-v
and give me RLC please... Author sangat membutuhkannya dalam rangka melanjutkan ff ini...

Yang suka sama ff ini bisa baca lanjutannya Tararam Potre part 2