Minggu, 21 Juli 2013

[FF EXO] Tararam potre part 2 - fanfiction - kris exo

*first*


Main Cast      : Wu yi Fan a.k.a Kris
                        Kang Je Ah as readers
Genre            : Fantasi, Romance, multicapter 
Author           : Isnapcy


Annyeong readers ! ^^ Author kembali dengan part  ke 2 Tararam potre yang mungkin aneh, sulit dimengerti -_-v Author lagi berusaha dan mencoba membuat cerita dengan genre berbeda. Hasilnya jelek? Mianhae… Author mohon maaf sebesar-besarnya kepada semua readers yang merasa kecewa atas semua ketidaknyamanannya. -_-v

Oleh karena itu, author mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun cerita ini dan dengan begitu semoga saja hasilnya bisa lebih bagus. Oke cukup coleteh dari author. Let’s read it and then give me ur advises and critics.
Don’t forget to follow my twitter @Isnapcy95 ^^

@@@

/back to/
/author PoV/

“hey !” seru seorang yeoja lagi pada seorang namja yang tidak pernah dia lihat, kali ini dengan suara yang lebih lantang, setelah dia berkelebat dengan ingatan masa lalunya yang masih menghantuinya hingga saat ini.


Namja itu kemudian menolehkan wajahnya ke arah yeoja itu. Yeoja itu dapat melihat dengan jelas wajah namja itu. Tampan ! Tampan sekali ! Tatapan matanya tajam. Saraf okulomotorik, Troklear dan saraf Abdusen yeoja itu tidak bekerja sinkron sepertinya ketika menatap mata namja itu. Urat-urat nadinya serasa mengendur, tenaganya bagai habis terkuras. Matanya hampir menandingi kekuatan medusa, hingga yeoja itu diam membatu seketika.

Baru pertama kalinya yeoja itu melihat namja setampan itu, ditambah lagi dengan perawakannya yang tegap dan dadanya yang bidang menambah daya tariknya yang sudah mempesona semakin mempesona. Yeoja itu  terlarut dalam pikirannya sendiri untuk beberapa saat.

Hingga…..

“Hey ! Kang Je Ah ! Sadarlah ! namja itu mungkin saja berbahaya untukmu. Kau harus berhati-hati dengannya. Akan lebih baik lagi untukmu jika kau menjauh dari namja itu. Disaat terdesak kau tidak bisa memakai kepandaianmu menghitung sudut ataupun sejenismu. Dia seorang namja yang berukuran tubuh yang lebih besar darimu. Dan… dia juga tampan. Itu bisa membuatmu lengah… terlebih lagi kau hanya mempunyai peluang yang kecil tidak akan cukup menjanjikan keselamatanmu” seru salah satu sudut pikirannya.



“Kang Je ah kau tidak berpikir untuk melepaskan petualangan barukan. Ini pasti akan menyenangkan sekali. Kau bisa menerka kalau semuanya akan begitu menegangkan. Bukannya kau menyukai hal-hal yang berbau seperti itu. hmm. ” seru sudut pikirannya yang lain.

“Jangan coba-coba beradu adrenalin lagi. Keselamatannmu terancam ! Pergi ! pergi menjauh Kang Je ah” seru yang satunya lagi.

“Keselamatanmu terancam ? haha it’s so funny. Hidup matimu sudah ditakdirkan jangan takut Kang Jeah. Kau percaya itu kan?”


“Takdir ? memang takdir telah ditentukan… tapi itu juga kurang menjanjikan keselamatan nyawamu. Bukankah nyawa lebih berharga dari segalanya.  Dan bagaimana kalau seandainya yang terjadi takdirmu kali ini adalah kau harus mati? Palli ! Pergilah menjauh ! Hindari hal yang terburuk”


Je ah merasa bingung harus melakukan apa karena adanya bisikan-bisikan di pikirannya yang memerintahkan dan memintanya untuk melakukan dua hal yang berbeda sekaligus. Selama perkelebatan pikiran apa yang harus dia lakukan saat itu… je ah dikejutkan oleh seruan namja yang menjadi pokok persoalan dan membuat pikirannya menjadi bertentangan..

“who are you? Why u tailing me? ah, you’re my fan, aren’t you ?” namja itu melontarkan sederet kata-kata dalam bahasa Inggris dengan aksen yang terdengar sangat kental. Suara beratnya terdengar manly, walau ada nada kasar dan marah didalamya.. entah setan apakah yang merasuki pikirannya.. je ah menyimpulkan namja dihadapannya itu orang baik...


“Mwo?” seru Kang Jeah. Dia tidak percaya apa yang baru saja dia dengar dari mulut namja yang ada di hadapannya.

"baik apa?? dia kasar begitu///"gumam je ah lagi dalam hati dengan perasaan kesal dan menyesal tentang apa yang baru dia pikirkan beberapa saat yang lalu..

Kang jeah pun sontak membalikan badannya dan merapikan kembali topinya yang sudah tampak rapi dan menyapu setitik keringat di keningnya. Masih dengan perasaan kesalnya dia menjauhi namja yang dinilainya aneh itu tanpa berucap sepatah katapun menaggapi ucapan namja tadi.


“Aissh, jinja ! wajahnya saja yang tampan tapi dia tidak mempunyai rasa kemanusiaan (?). Bisa-bisanya dia langsung menuduhku mengikutinya apalagi dia berkata dengan nada sekasar itu. Ok ! Kalau dia sedang tidak ingin diikuti dan dia merasa diikuti olehku ataupun orang lain, tapi setidaknya dia seharusnya bisa bersikap lebih ramahlah padaku, kepada seorang YEOJA.” umpatnya seraya terus melangkahkan kakiku menuju arah yang berlawanan dengan namja itu.


“Eh? Tunggu dulu? Yeoja? Andwee !! Jangan-jangan dia mengiraku namja hingga dia bersikap kasar padaku. Eottoke?” gerutunya.

“Haruskah aku mendekati namja itu lagi dan menunjukan kalau aku ini yeoja?? Kurasa itu bukanlah penyelesaian yang baik” pikirnya.


“aishh ! jinjaa… menyebalkan sekali namja itu” teriaknya seraya menghentakan kakinya ditanah meluapkan rasa kesalnya. Kang Je ah bukanlah yeoja yang jika kesal akan mudah melupakan kekesalannya begitu saja. Setidaknya dia akan merenungkannya selama beberapa hari dan malam mencari solusi agar apa yang dia inginkan bisa terlaksana. Keras kepala !

dan... setelah beberapa hari terlewati dan selama itu dia tidak pernah bertemu atau bahkan melihat ujung kuku namja itu sekalipun,, je ah akhirnya menyerah dan sepertinya mulai berpikiran rasional..

 "ah tapi.... apa peduli ku??" pikir je ah lagi... " dia tidak mengenalku ataupun terkait denganku... apa yang kupermsalahkan???" tanyanya pada diri sendiri,,



@@@
/Kang Jeah PoV

Sesaat aku hampir tiba dipekarangan rumahku, Soohyun ahjumma langsung menghampiriku. “neo gwenchanayo” dia membalik-balikan badanku, Mengamati setiap inchi tubuhku dari atas hingga ke bawah. Raut wajahnya nampak cemas, sepertinya dia ingin memastikan aku tidak melakukan hal-hal aneh yang dapat membuatku kembali dalam bahaya.

“Nan gwenchana, ahjumma”. Aku sungguh tidak habis pikir mengapa Soohyun ahjumma begitu mengkhawatirkanku. Tidak pernah ku lihat wajahnya sepanik itu.


Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan dia lantas kembali memutar-mutar dan membalikan badanku, mengamati apakah aku benar-benar baik-baik saja. Aku merasa menjadi anak kecil kembali. Walaupun begitu aku bersyukur karena masih ada orang yang mengkhawatirkan aku.

“nan gwenchanayo, ahjumma sayang” kataku kembali menegaskan bahwa aku benar-benar baik-baik saja. “waeyo ahjumma?” tanyaku ketika kulihat sepertinya Soohyun ahjumma masih tidak mau mempercayaiku.


“ahjumma sangat takut kamu tidak kembali… emm…” kata-kata Soohyun ahjumma terpotong, dia sepertinya sedang memikirkan kembali apa yang baru saja dia lontarkan padaku.

“ne?” tanyaku seraya menatap mata Soohyun ahjumma.


“aniyo.. hehe.. kamu baik-baik saja ahjumma sudah sangat senang..” katanya lagi dengan sedikit terbata-bata dan senyum yang agak dipaksakan. Aku yakin sekali Soohyun ahjumma pasti sedang menyembunyikan sesuatu. Aku tahu betul dia bukan orang yang pandai menyembunyikan sesuatu. Walaupun demikian aku yakin kata-kata terakhir, kalau dia mencemaskanku itu benar-benar tulus. Ya jelas saja selama ini, jika appa dan umma pergi aku pasti akan tinggal bersama Soohyun ahjumma. Bahkan dia lebih seperti umma kandungku saja yang selalu ada jika aku membutuhkannya.


@@@


/Kang Je Ah’s room/

Aku masih terngiang wajah namja yang beberapa waktu yang lalu ku temui tanpa sengaja di sekitar semak belukar di ujung komplek rumahku. Entah mengapa wajahnya selalu muncul di benakku. Sepertinya hemisfer serebrum-ku bekerja dengan baik saat itu hingga aku bisa mengingat dengan jelas struktur wajahnya.

Aku juga masih belum mengerti kejadian di masa laluku, sewaktu aku masih sangat kecil. Kejadian itu sangat persis dengan apa yang baru saja ku alami tadi. Hanya saja namja itu tidak jatuh tersungkur, kesakitan, mengerang ataupun hilang tanpa bekas seperti halnya ahjushi yang kala itu ku temui.

Seperti biasa pikiranku kembali dipenuhi dengan runtutan pertanyaan yang semakin membuatku bingung. Runtutan pertanyaan yang bermunculan begitu saja dan selalu menuntutku untuk menemukan jawabannya. Ah, rasanya otakku terasa pecah. Mengapa terasa sulit untukku hanya menemukan jawaban pertanyaan. Padahal hanya pertanyaaan saja. Dia tidak memerasku ataupun meminta tumbal dan hal-hal yang sangat aneh padaku.


Kelenjar adrenalinku sepertinya benar-benar bekerja keras sekarang. Banyak hal yang harus dipikirkan, hormone adrenalin atau epinefrin harus terus menerus diproduksi saat-saat seperti ini, sehingga aku bisa tetap siaga menghadapi segala sesuatunya.


Walaupun dampak tidak langsungnya dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan penyakit hipertensi karena tekanan darah dan denyut jantung selalu berada dalam frekuensi tinggi. Tidak ada asam benzoate atau sejenisnya yang dapat membuat arteri ataupun vena yang ada di seluruh tubuhku tetap berfungsi dengan baik.



Detik demi detik terus berlalu aku tidak juga kunjung menemukan jawaban segala runtutan pertanyaan yang menghujam di kepalaku. Serasa tidak adil bagiku, pertanyaan datang tanpa kompromi, bukannya membuatku lebih baik malah menyisakan rasa penasaran yang sedikit menyiksa batin.



/A few hours later/

Udara dingin menyentuh kulitku, rambutku yang panjang serasa tersingkap diterpa angin dingin malam hari yang menghembus masuk melalui jendela kamarku yang terbuka. Rasanya terasa menggelitik kulitku dan kemudian mengusikku dari keterlelapanku. Dengan berat ku buka mataku yang sempat terpatri selama beberapa waktu, saat aku memasuki dunia mimpiku, alam bawah sadarku.


Tanpa sengaja aku melihat dengan jelas sesosok makluk dengan wajah dan perawakan seperti manusia dengan sayap seperti naga tengah berada di depan jendela kamarku. Aku tidak begitu yakin apakah benar apa yang baru saja ku lihat. Seperti yang ku ketahui hingga saat ini, naga itu hanyalah makhluk yang tidak pernah dapat dibuktikan kebenaran keberadaannya sepanjang sejarah bumi.


Dari berbagai sejarah disebutkan kalau naga hanya legenda dari kepercayaan beberapa suku tertentu saja. Dan merekapun tidak bisa membuktikan kebenaran keberadaannya. Hanya berdasarkan kepercayaan saja.

Walaupun ada beberapa kelompok masyarakat tertentu percaya akan keberadaannya hingga saat ini. Bahkan ada beberapa orang mengaku melihatnya secara visual. Tapi tidak pernah ada bukti kuat akan adanya keberadaan dan eksistensinya di muka bumi ini.

Sepertinya aku masih dalam alam bawah sadarku, pikirku. Aku lantas mencubit lenganku sendiri, dan tidak terasa sakit. Aku memang sedang dalam alam mimpi. Jadi biarlah sejenak aku berada disini sebentar menikmati pertualangan baru walaupun hanya dalam mimpi pikirku.


@@@

/flashback/

“Kris….”
Terdengar suara terdengar sayup-sayup. Entah darimana asalnya.

“Sial !” umpatku kesal. Bagaimana bisa kepalaku terasa berat seperti ini? Ada apa denganku? Aku tidak dapat melihat atau merasakan adanya kehadiran siapapun disekitarku. Kabut ! disekitarku dipenuhi oleh kabut tebal.

“bagaimana bisa aku berada ditempat ini?” gumamku dalam hati.

“kris…!!” suara itu terdengar lagi ditelingaku. Aku lantas mencoba bangkit. Perlahan ku kumpulkan tenagaku untuk menegakkan tubuhku mencari sumber suara.

Aku menolehkan kepalaku ke kiri dan kekanan, kemuka dan ke belakang (?) /emang bisa ya?/ tapi aku tetap tidak menemukan sosok seorang pun ada ditempat aneh ini. Ditempat yang hanya nampak ada kabut tebal dan seperti tidak ada kehidupan ini.
           
Perlahan kulangkahkan kakiku ke depan beranjak dari tempatku tergeletak semula.
“hey!” teriakku dengan suara sedikit tercekat. Sepertinya suaraku ikut-ikutan menghilang.

“anybody here!” teriakku sekali lagi. kali ini suaraku agak mulai kembali normal.
Hening ! setelah beberapa lama aku menunggu namun tidak ada suara yang menjawab pertanyaanku.
         
“anybody here ! please say something if u here !”

Aku terus berteriak sambil memasang baik-baik telingaku, namun tidak ada seorangpun yang menjawab. Sepertinya aku benar-benar terjebak ditempat aneh ini.
         
“please… save me… hhh”
Hah haah haahh.. dadaku terasa sesak. Kabutnya semakin tebal. Tidak hanya menggangu penglihatan tapi juga mengganggu system pernapasanku.

Wuuush ! angin berhembus semilir. Kabut disekitarku tiba-tiba memudar. Sebercak cahaya mulai tampak. Tak lama kemudian nampaklah sesosok wanita separuh baya dengan setelan baju era 90-an berwarna coklat yang tampak sedikit lusuh tapi menurutku cocok dengan tubuhnya yang tinggi semampai. Aku berani menerka wanita itu sepertinya bukan orang sembarangan. Dia pasti orang yang punya kedudukan. Tapi yang membuatku heran adalah apa yang tengah dia lakukan disini?

“kris…” wanita itu memanggilku sembari tersenyum lebar seakan dia telah mengenalku sejak lama sekali.

“Darimana kau mengetahui namaku ?” tanyaku heran sembari menatapnya tajam mencoba membaca ekspresi wajahnya.

            “haha. Tentu saja aku mengenalmu.” wanita itu lalu terkekeh kecil.
“kris.. kau tidak mengenaliku ?” serunya. Aku mengerutkan keningku. Aku berani bertaruh. Aku sangat yakin aku tidak pernah bertemu dengan wanita ini sebelumnya.

“baiklah kalau kau tidak mengingatku… aku tidak akan memaksamu kris…” katanya seperti dia bisa membaca pikiranku.

“tapi…”
Aku mendongakkan kepalaku kembali memandangnya. “tapi?” tanyaku heran.
Dia tersenyum simpul dan kemudian “jagalah dirimu baik-baik. Hiduplah dengan baik dan jangan berbuat jahat kepada orang lain. Untuk beberapa waktu dekat ini kau akan menghadapi kesulitan jadi berusahalah tegar, arra?”

Aku semakin mengernyitkan keningku. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dia katakan. Sangat sulit bagiku mencerna semua kata-katanya dengan baik.

“Apa maksud..?” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku apa daya wanita itu sudah menghilang tanpa jejak.


@@@
/a few days later/
Author pov

            Seorang namja berparas tampan dan berperawakan bidah dan gagah dengan pakaian serba hitam tengah menarik kopernya yang juga berwarna hitam dengan sedikit tergesa-gesa. Dia juga mengenakan kacamata hitam yang lumayan membuat orang yang melihatnya akan mengira dia adalah supemodel atau bahkan seorang pangeran. But actually he’s not a supermodel or a prince.





            Banyak orang yang ada disekitarnya memandang dengan pandangan kagum bahkan ada yang berteriak histeris.. tapi dia tidak menghiraukannya.. dia sedang mencari seseorang yang tentunya sudah lama tidak dia temui dan sudah lama menunggu kedatangannya saat ini..
“hello mom…” serunya pada seorang wanita yang tidak lain adalah ibunya. Yeah she’s his mom..!
“hello.. kris??” tanyanya agak ragu.
“hmm..” gumamnya pelan.
“are u really my son.. kris??” dengan pandangan tidak percaya dia melihat anak yang telah dibesarkannya selama ini.

“yes I am” katanya sembari menyuguhkan senyumnya. Sang ibu pun sontak memeluk anaknya itu saking rindunya dan sang anak membalas pelukannya.



“oh my god~ my son grown well now… look~ u’re so tall now… I miss u.. son” katanya tulus dan dengan tatapan rindu yang mendalam. Bagaimana tidak anaknya sekarang mulai menginjak dewasa.. ya 23 tahun sudah terlalu cukup untuk menyatakan dia bukanlah anak-anak dan remaja lagi.

“ I know. I miss u too mom” balasnya.
Sang ibu terlihat sangat terharu kali ini dan kembali memeluk erat anaknya itu. dan sang anak pun membalas pelukan erat ibunya hingga beberapa saat moment bahagia seperti itu.

“mom…” dia berseru lembut setelah beberapa saat terhanyut dalam suasana.

“yeah.. son..” jawabnya.

“I think we must go home now.. I tired, you know…”

“ah yes, sure my son…”

 To be Continued~

@@@


Gimana readers?? Jelek ya?? Mianhamnida -_-v author sudah berusaha.. karena itu please berikan komentar, kritik dan sarannya… I need it for evaluate and referention..
For readers who was read my ff I say thank you very much to read my ff….
Don’t foget to follow my twitter @isnapcy95 or follow my weibo @isna2717 and my tumblr @isnapcy too ~


Yang belum baca part 1 nya baca disini Tararam potre part 1



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar