Sabtu, 31 Mei 2014

Trend dan Isu Keperawatan Gawat Darurat


Trend and Issue on Nurse
Write by "I"

Daftar Isi
Judul
Lembar Pengesahan..........................................................................................    i
Kata Pengantar.................................................................................................    ii
Daftar Isi...........................................................................................................    iii
BAB I
PENDAHULUAN...........................................................................................    1
A. Latar Belakang.......................................................................................    1
B. Tujuan Makalah......................................................................................    1
BAB II
PEMBAHASAN……………………………………………………………..  2
A.    Pengertian…………………. 2
B.     Trend dan isu dalam keperawatan gawat darurat…………………………………..…………………………..... 2
BAB III
PENUTUP……………………………………………………………………..14
A. Kesimpulan………………………………………………………….14
B. Saran………………………………………………………………. .14


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Rumah sakit merupakan tempat terakhir dalam menanggulangi penderita gawat darurat oleh karena itu fasilitas rumah sakit, khususnya instalasi gawat darurat harus dilengkapi sedemikian rupa sehingga dapat menanggulang gawat darurat.
Pelayanan keperawatan gawat darurat merupakan pelayanan profesional yang didasarkan pada ilmu dan metodologi keperawatan gawat darurat ditujukan kepada klien atau pasien yang mempunyai masalah aktual atau potensial mengancam kehidupan tanpa atau terjadinya secara mendadak atau tidak di perkirakan tanpa atau disertai kondisi lingkungan yang tidak dapat dikendalikan.
Di instalasi gawat darurat tiap saat pada kasus kegawatan yang harus segera mendapat pelayanan dan perawatlah yang selalu kontak pertama dengan pasien 24 jam, oleh sebab itu pelayanan profesional harus ditingkatkan karena pasien gawat darurat membutuhkan pelayanan yang cepat, tepat, dan cermat dengan tujuan mendapatkan kesembuhan. Oleh karenanya perawat instalasi gawat darurat disamping mendapat bekal ilmu pengetahuan keperawatan juga perlu untuk lebih meningkatkan keterampilan yang spesifik seperti tambahan pengetahuan penanggulangan penderita gawat darurat (PPGD).
Sekitar 25 % kematian akibat trauma akibat trauma disebabkan oleh cedera dada dan setengah dari korban cedera ganda / multiple injuries juga mengalami cedera dada . 2/3 jumlah korban cedar dada fatal masih hidup saat mereka mencapai IRD dan hanya 15% yang memerlukan operasi. Jadi korban cedera dada masih bias diselamatkan bila dilakukan prosedur yang tepat di fase prehospital dan IRD. Tujuan makalah ini ialah untuk memudahkan anda mengenali tanda dan gejala cedera dada berat serta memberikan pertolongan yang tepat. Cedera dada yang berat biasanya disebabkan kecelakaan lalulintas, jatuh, luka tembak, luka tusuk, tabrakan dan sebagainya.
B.     Tujuan
1.      Menjelaskan apa yang dimaksud trend
2.      Menjelaskan apa yang dimaksud isu
3.      Menjelaskan apa yang dimaksud dengan trend dan isu dalam keperawatan
4.      Mengetahui tren dan isu keperawatan gawat darurat


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Trend adalah hak yanag sangat mendaar dalam berbagai pendekatan analisa, trend juga dapat didefenisikan salah satu gambaran ataupun informasi yang terjadi pada saat ini yang biasanya sedang populer dimasyarakat.
Isu adalah suatu peristiwa atau kejadian yang dapat diperkirakan terjadi terjadi atau tidak terjadi pada masa mendatang. Isu adalah sesuatu yang sedang dibicarakan oleh banyak orang namun masih belum jelas faktanya atau buktinya.
Trend dan isu keperawatan adalah sesuatu yang sedang di bicarakan banyak orang tentang praktek / mengenai keperawatan baik itu berdasarkan fakta maupun tidak.
Keparawatan gawat darurat adalah pelayanan profesioanal keperawatan yang di berikan pada pasien dengan kebutuhan urgen dan kritis. Namun UGD dan klinik kedaruratan sering di gunakan untuk masalah yang tidak urgen. Yang kemudian filosopi tentang keperawatan gawat darurat menjadi luas, kedaruratan yaitu apapun yang di alami pasien atau keluarga harus di pertimbangkan sebagai hedaruratan
Pelayanan gawat darurat tidak hanya memberikan pelayanan untuk mengatasi kondisi kedaruratan yang di alami pasien tetapi juga memberikan asukan keperawatan untuk mengatasi kecemasan pasien dan keluarga. sistem pelayana bersifat darurat sehingga perawat dan tenaga medis lainnya harus memiliki kemampuan, keterampilan, tehnik serta ilmu pengetahuan yang tinggi dalam memberikan pertolongan kedaruratan kepeda pesien.
B.     Trend dan Isu dalam Keperawatan Gawat Darurat
a.       CPR / RJP
Resusitasi jantung paru-paru atau CPR adalah tindakan pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti napas karena sebab-sebab tertentu. CPR bertujuan untuk membuka kembali jalan napas yang menyempit atau tertutup sama sekali. CPR sangat dibutuhkan bagi orang tenggelam, terkena serangan jantung, sesak napas, karena syok akibat kecelakaan, terjatuh, dan sebagainya.
Namun yang perlu diperhatikan khusus untuk korban pingsan karena kecelakaan, tidak boleh langsung dipindahkan karena dikhawatirkan ada tulang yang patah. Biarkan di tempatnya sampai petugas medis datang. Berbeda dengan korban orang tenggelam dan serangan jantung yang harus segera dilakukan CPR.
Chain of survival merupakan suatu serial tindakan yang harus dilakukan pada pasien yang mengalami henti jantung. Chain of survival terdiri dari lima unsur,yakni: pengenalan dini henti jantung, pemberian CPR secara dini, pemberian defibrilator sesegera mungkin, penatalaksanaan ALS (Advance Life Support), dan perawatan pasca henti jantung.
Rantai kehidupan (chain survival) terdiri dari beberapa tahap berikut ini (AHA, 2010):
1.      Mengenali sedini mungkin tanda-tanda cardiac arrest dan segera mengaktifkan
2.      panggilan gawat darurat (Emergency Medical Services)
3.      Segera melakukan RJP dengan tindakan utama kompresi dada
4.      Segera melakukan defibrilasi jika ada indikasi
5.      Segera memberi bantuan hidup lanjutan (advanced life support)
6.      Melakukan perawatan post cardiac arrest
b.      Indikasi
1.      Pasien henti nafas
Henti nafas ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara pernafasan dari korban atau pasien. Henti nafas merupakan kasus yang harus dilakukan tindakan Bantuan Hidup Dasar. Henti nafas terjadi dalam keadaan seperti: Tenggelam atau lemas, stroke, obstruksi jalan nafas, epiglotitis, overdosis obat-obat, tersengat listrik, infark miokard, tersambar petir, koma akibat berbagai macam kasus.
2.      Pasien henti jantung
Pada saat terjadi henti jantung, secara langsung akan terjadi henti sirkulasi. Henti sirkulasi ini akan dengan cepat menyebabkan otak dan organ vital kekurangan oksigen. Pernafasan yang terganggu merupakan tanda awal akan terjadinya henti jantung. Henti jantung ditandai oleh denyut nadi besar tak teraba disertai kebiruan atau pucat, pernafasan berhenti atau satu-satu, dilatasi pupil tak bereaksi terhadap rangsang cahaya dan pasien tidak sadar (Suharsono, T., & Ningsih, D. K., 2008).
c.       Alur Basic Life Support
1.      Tahapan persiapan
Sebelum melakukan resusitasi maka harus dilakukan beberapa prosedur berikut pada pasien (AHA, 2010):
·         Memastikan kondisi lingkungan sekitar aman bagi penolong
·         Memastikan kondisi kesadaran pasien
Penolong harus segera mengkaji dan menentukan apakah korban sadar/tidak. Penolong harus menepuk atau menggoyang bahu korban sambil bertanya dengan jelas: ‘Hallo, Pak/ Bu! Apakah anda baik-baik saja?’.Jangan menggoyang korban dengan kasar karena dapat mengakibatkan cedera. Juga hindari gerakan leher yang tidak perlu pada kejadian cedera kepala dan leher.
·      Mengaktifkan panggilan gawat darurat
Jika korban tidak berespon, segera panggil bantuan. Jika ada orang lain disekitar korban, minta orang tersebut untuk menelpon ambulans dan ketika menelpon memberitahukan hal-hal berikut:
Ø  Lokasi korban
Ø  Apa yang terjadi pada korban
Ø  Jumlah korban
Ø  Minta ambulans segera datang
·      Memastikan posisi pasien tepat
Agar resusitasi yang diberikan efektif maka korban harus berbaring pada permukaan yang datar, keras, dan stabil. Jika korban dalam posisi tengkurap atau menyamping, maka balikkan tubuhnya agar terlentang. Pastikan leher dan kepala tersangga dengan baik dan bergerak bersamaan selam membalik pasien.
2.      Fase-fase RJP (Resusitasi Jantung Paru) Sesuai Algoritma AHA 2010
a.      Basic life support (BLS) atau tunjangan hidup dasar
Pada tahun 2010, American Heart Association (AHA) mengeluarkan panduan terbaru penatalaksanaan CPR. Berbeda dengan panduan sebelumnya, pada panduan terbaru ini AHA mengubah algoritma CPR dari ABC menjadi CAB.
·      Circulation (C)
Mengkaji nadi/ tanda sirkulasi Ada tidaknya denyut jantung korban/pasien dapat ditentukan dengan meraba arteri karotis di daerah leher korban/ pasien, dengan dua atau tiga jari tangan (jari telunjuk dan tengah) penolong dapat meraba pertengahan leher sehingga teraba trakhea, kemudian kedua jari digeser ke bagian sisi kanan atau kiri kira-kira 1–2 cm raba dengan lembut selama 5–10 detik. Jika teraba denyutan nadi, penolong harus kembali memeriksa pernapasan korban dengan melakukan manuver tengadah kepala topang dagu untuk menilai pernapasan korban/ pasien. Jika tidak bernapas lakukan bantuan pernapasan, dan jika bernapas pertahankan jalan napas.
Melakukan kompresi dada Jika telah dipastikan tidak ada denyut jantung luar,dilakukan dengan teknik sebagai berikut :
Ø  Menentukan titik kompresi (center of chest): Cari possesus xypoideus pada sternum dengan tangan kanan, letakkan telapak tangan kiri tepat 2 jari diatas posseus xypoideus.
Ø  Melakukan kompresi dada
Kaitkan kedua jari tangan pada lokasi kompresi dada, luruskan kedua siku dan pastikan mereka terkunci pada posisinya, posisikan bahu tegak lurus diatas dada korban dan gunakan berat badan anda untuk menekan dada korban sedalam minimal 2 inchi (5 cm), lakukan kompresi 30x dengan kecepatan minimal 100x/menit atau sekitar 18 detik. (1 siklus terdiri dari 30 kompresi: 2 ventilasi). Lanjutkan sampai 5 siklus CPR, kemudian periksa nadi carotis, bila nadi belum ada lanjutkan CPR 5 siklus lagi. Bila nadi teraba, lihat pernafasan (bila belum ada upaya nafas) lakukan rescue breathing dan check nadi tiap 2 menit.
Ø  Airway (A) Tindakan ini bertujuan mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan napas oleh benda asing. Buka jalan nafas dengan head tilt-chin lift/ jaw thrust. Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu, kalau sumbatan berupa cairan dapat dibersihkan dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi dengan sepotong kain (fingers weep), sedangkan sumbatan oleh benda keras dapat dikorek dengan menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan. Mulut dapat dibuka dengan teknik Cross Finger, dimana ibu jari diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk pada mulut korban.
Ø  Breathing (B) Bantuan napas dapat dilakukkan melalui mulut ke mulut, mulut ke hidung atau mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan) dengan cara memberikan hembusan napas sebanyak 2 kali hembusan, waktu yang dibutuhkan untuk tiap kali hembusan adalah 1,5–2 detik dan volume udara yang dihembuskan adalah 7000–1000ml (10ml/kg) atau sampai dada korban/pasien terlihat mengembang. Penolong harus menarik napas dalam pada saat akan menghembuskan napas agar tercapai volume udara yang cukup. Konsentrasi oksigen yang dapat diberikan hanya 16 – 17%. Penolong juga harus memperhatikan respon dari korban/pasien setelah diberikan bantuan napas.
3.      Trauma dada
Trauma dada adalah trauma tajam atau tembus thoraks yang dapat menyebabkan tamponade jantung, perdarahan, pneumothoraks, hematothoraks,hematopneumothoraks.Trauma thorax adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul.Di dalam toraks terdapat dua organ yang sangat vital bagi kehidupan manusia, yaitu paru-paru dan jantung. Paru-paru sebagai alat pernapasan dan jantung sebagai alat pemompa darah. Jika terjadi benturan atau trauma pada dada, kedua organ tersebut bisa mengalami gangguan atau bahkan kerusakan.
Dada merupakan rongga bertulang yang terbentuk dari 12 pasang tulang rusuk yang berhubungan dengan tulang belakang di posterior dan tulang dada di anterior. Saraf dan pembuluh darah intercostals berjalan sepanjang permukaan inferior pada setiap tulang rusuk. Permukaan dalam rongga dada dan paru dilapisi selaput tipis, disebut pleura. Ruang antara dua lapisan pleura normalnya hampa (ruang potensial), bila ruangan ini berisi udara akan menimbulkan pneumothorax, bila berisi darah akan menimbulkan hemothorax. Pada orang dewasa, ruangan potensial ini dapat menampung 3 liter cairan disetiap sisinya. Setiap paru menempati sebelah rongga dada. Di antara 2 rongga dada terletak mediastinum, yang berisi oleh jantung, aorta, vena kava superior dan inferior, trakea, bronkus utama dan esophagus. Medulla spinalis dilindungi oleh columna vertebralis. Diafragma memisahkan organ-organ thorax dari rongga abdomen. Organ perut bagian atas seperti limpa, hati, ginjal, pancreas dan lambung dilindungi tulang rusuk bagian bawah.
Bila melakukan evaluasi korban dengan kemungkinan trauma thorax, harus selalu mengikuti penilaian prioritas secara BTLS untuk menghindari terlewatkannya kondisi yang mengancam jiwa. Selama survey primer BTLS, carilah cedera yang paling parah terlebih dahulu untuk memberikan kesempatan hidup pada korban tersebut . Seperti semua penderita trauma lainnya, mekanisme trauma penting diketahui untuk penanganan penderita trauma dada. Cedera dada meungkin merupakan akibat dari trauma tumpul atau trauma tajam. Pada trauma tumpul energy yang didistribusikan meliputi area yang luas dan cedera visceral dapat disebabkan karena deselerasi, robekan, kompresi atau ledakan. Luka penetrasi biasanya berasal dari tembakan atau tusukan, energy yang didistribusikan meliputi area yang lebih sempit. Terjangan peluru sering sulit diperkirakan akibatnya, dan semua yang berada di dalam dada beresikoterkena. Hasil akhir yang paling sering terjadi pada cedera dada adalah hipoksia jaringan. Hipoksia jaringan dapat terjadi akibat :
a.       Pengiriman oksigen ke jaringan yang tidak adekuat akibat sekunder dari obstruksi jalan nafas
b.      Hipovolemia akibat perdarahan
c.       Ventilasi atau perfusi yang tidak sesuai akibat cedera parenkim paru
d.      Perubahan tekanan pleura akibat tension pneumothorax
e.       Kegagalan pompa jantung akibat cedera miokardium berat
Gejala utama cedera dada meliputi nafas pendek, nyeri dada dan distress respirasi. Tanda yang menunjukkan trauma thorax termasuk : syok, batuk darah, sianosis, dinding dada memar, flail chest, luka terbuka, distensi vena leher, deviasi trachea atau emfisema subkutis. Periksa suara nafas di dada kiri dan kanan. Trauma thorax yang mengancam jiwa harus segera diidentifikasi. Terdapat 12 keadaan gawat darurat trauma thorax. Cedera-cedera berikut ini harus dideteksi dan diterapi selama survei primer BTLS :
1.      Obstruksi jalan nafas
2.      Pneumothorax terbuka
3.      Tension pneumothorax
4.      Hemotorax massif
5.      Flail chest
6.      Tamponade jantung
Cedera yang mengancam nyawa yang dapat dideteksi selama pemeriksaan detil atau evaluasi di rumah sakit (secondary survey) adalah sebagai berikut:
1.      Ruptur aorta traumatic
2.      Cedera trakea atau cabang bronkus
3.      Contusio miokardium
4.      Robekan diafragma
5.      Cedera esophagus
6.      Contusio pulmonum
4.      Masalah - Masalah Pada Trauma Thorax
1.       Obstruksi Jalan Nafas
Dalam menangani jalan nafas, harus selalu beranggapan terdapat pula cedera tulang servikal.
2.      Open Pneumothorax (Pneumothorak Terbuka)
Keadaan ini seing disebabkan oleh cedera tajam, berupa luka dada yang menghisap (sucking chest wound). Gejala dan tanda yang timbul sesuai dengan ukuran kerusakan pada dinding dada. Ventilasi normal melibatkan tekanan negatif rongga dada akibat kontraksi diafragma. Saat udara melalui saluran nafas atas, paru akan berkembang. Adanya luka terbuka yang besar pada dinding dada (lebih besar dari trakea kira-kira seukuran jari kelingking penderita), aliran udara melalui dinding dada yang terbuka ini menyebabkan bunyi menghisap, sehingga disebut luka dada yang menghisap. Udara hanya akan mengalir masuk ke rongga pleura, tidak ke paru, sehingga oksigen tidak dapat didistribusikan ke darah, yang selanjutnya akan berakibat hipoksia dan gannguan ventilasi.
Penatalaksanaan open pneumothoraks
1.      Pastikan jalan nafas terbuka
2.      Tutup lobang pada dinding dada dengan material yang masih tersedia,misalnya pada defibrillator, pembalut bervaselin, sarung tangan karet, atau lembaran plastik. Penutupan yang dapat beresiko menimbulkan tension pneumothorax . Untuk menghindari hal ini,plester 3 sisi penutup lobang dada supaya tercipta semacam katup, udara dapat keluar tapi tidak dapat masuk rongga dada
3.      Beri oksigen
4.      Pasang monitor jantung, bila ada
5.      Monitor saturasi oksigen dengan pulse oximeter
6.      Rujuk dengan cepat ke rumah sakit yang tepat
Sekarang tersedia penutup luka dada (Asherman Chest Seal) dengan katup satu arah yang saat ini merupakan benda terbaik untuk menutup luka dada terbuka. Pasang segera chest tube dan diikuti dengan operasi untuk menutup lobang tadi.
3.      Tension Pneumothorax
Cedera ini terjadi bilamana terbentuk katup satu arah akibat trauma tumpul maupun tajam. Udara dapat masuk tetapi tidak dapat keluar dari rongga pleura,selanjutnya akan menyebabkan peningkatan tekanan intratoracal sehingga paru yang terkena kolaps dan mediastinum akan terdorong kesisi berlawanan. Tekanan ini akan menyebabkan vena cava superior dan inferior kolaps sehingga venous return (aliran balik vena) akan turun sampai hilang. Deviasi trachea dan mediastinum menjauhi sisi yang mengalami tension pneumothorax, akan mengganggu ventilasi paru lainnya, meskipun hal ini merupakan fenomena lanjut. Tanda-tanda klinis tension pneumothorax termasuk dispneu,kecemasan , takipneu, suara nafas menurun, pada perkusi terdengar hipersonor di sisi yang terkena hipotensidan distensi vena leher. Deviasi trachea dijumpai pada fase lanjut (dan jarang) tapi bila tidak dijumpai tidak berarti bukan tension pneumothorax. Pada 108 penderita tension pneumothorax dan membutuhkan dekompresi dengan jarum tidak dijumpai adanya deviasi trachea. Penurunan daya pegas/compliance paru (ditandai dengan terasa berat saat meremas balon alat bag valve) sudah harus dicurigai kemungkinan terjadinya tension pneumothorax.
Penatalaksanaan tension pneumothorax
1.      Pastikan jalan nafas terbuka
2.      Beri Oksigen konsentrasi tinggi
3.      Monitor saturasi oksigen dengan pulse oksimeter
4.      Segera rujuk ke rumah sakit yang tepat
5.      Hubungi tempat tujuan pelayanan medis
Penderita harus dirujuk kerumah sakit dengan cepat sehingga dapat dilakukan dekompresi dada. Chest tube juga perlu disediakan sesampainya di rumah sakit.
4.      Hemothorax Masif
Terdapat darah di dalam cavum pleura disebut hemothorax. Hemothorax massif terjadi bila sekurang-kurangnya 1500 ml darah terkumpul di cavum pleura. Setiap rongga dada dapat menampung kurang lebih 3000 ml darah. Hemothorax massif lebih sering disebabkan oleh trauma oleh trauma tajam dibandingkan trauma tumpul, tapi kedua jenis trauma tersebut dapat merusak pembuluh darah besar paru atau sistemik. Ketika darah terkumpul di cavum pleura, paru pada daerah yang cedera akan kolaps. Bila darah yang terkumpul cukup banyak (jarang), mediastinum akan terdorong ke sisi yang berlawanan. Vena cava superior dan inferior, serta paru kontralateral akan terkompresi. Kehilangan darah selanjutnya akan berakibat hipoksemia.Tanda dan gejala hemothorax massif disebabkan oleh hipovolemia dan gangguan respirasi. Penderita dapat mengalami hipotensi akibat kehilangan darah, kompresi jantung dan pembuluh darah besar. Gelisah dan kebingungan disebabkan oleh hipovolemia dan hipoksemia. Tanda klinis syok hipovolemi mungkin sudah terlihat pembuluh vena leher biasanya kempis akibat sekunder dari hipovolemia, tapi kadang juga bias distensi akibat kompresi mediastinum. Tnada lain berupa suara nafas yang menurun dan pada perkusi timbul suara pekak disisi paru yang terkena.
Penatalaksanaan Hemothorax
1.      Pastikan jalan nafas terbuka
2.      Beri oksigen aliran tinggi
3.      Segera rujuk ke rumah sakit yang tepat
4.      Monitor saturasi oksigen dengan pulse oksimeter
5.      Hubungi tempat tujuan pelayanan medis
5.      Flail Chest
Hal ini terjadi bila tiga atau lebih tulang rusuk yang berdekatan patah, sekurang kurangnya pada dua tempat terpisah. Segmen patahan ini tidak terhubung lagi dengan dinding dada. Dapat terjadi lateral atau anterior (terpisah dari sternum) flail chest. Pada patah tulang rusuk posterior, susunan otot-otot yang padat mencegah terjadinya flail chest. Flail segmen bergerak paradoksal dengan sisa dinding dada. Kekuatan yang mengakibatkan flail chest juga akan mencederai paru, dan memar paruyang timbul akan memperberat hipoksia. Pasien juga beresiko menderita hemothorax atau pneumothorax. Flail segmen yang besar akan menimbulkan distress nafas yang nyata. Nyeri pada cedera dinding dada memperberat gangguan nafas yang nyata. Nyeri pada cedera dinding dada memperberat gangguan pernafasan yang telah ada akibat gerakan paradoksal dan memar paru. Palpasi dada akan teraba krepitasi sebagai tambahan gerakan nafas abnormal.
Penatalaksanaan flail chest
1.      Pastikan jalan nafas terbuka
2.      Beri oksigen
3.      Bantu ventilasi bila perlu, harus diingat bahwa flail chest sering diikuti pneumothorax
4.      Monitor saturasi oksigen dengan pulse oksimeter
5.      Segera rujuk ke rumah sakit yang tepat
6.      Stabilisasi flail segmen dengan tekanan tangan, beri kain bersih lalu plester. Tindakan ini tidak perlu terburu-buru dilakukan sebaiknya menunggu sampai penderita stabil di atas backboard. Usahakan menjaga stabilisasi pada segmen flail dengan tekanan manual selama melakukan roll.
7.      Hubungi tempat tujuan pelayanan medis
8.      Pasang monitor jantung bila alat tersedia, karena trauma miokardium ini juga sering menyertai cedera ini.
6.      Tamponade Jantung
Keadaan ini sering terjadi pada trauma tajam.Selaput pericardium merupakan membran yang tidak elastis yang mengelilingi jantung. Bila terjadi penumpukan darah pada rongga pericardium, ventrikel akan tertekan. Meskipun dalam jumlah sedikit , darah dalam rongga pericardium akan mengganggu pengisian jantung. Pada saat tekanan kompresi pada ventrikel meningkat, pengisian darah ke jantung akan turun sehingga cardia output menurun. Trias klasik tamponade jantung adalah hipotensi, distensi vena leher, suara jantung terendam/menjauh/muffle (trias beck). Suara jantung menjauh mungkin sulit dikenali dilapangan, namun bila anda mendengarkan suara jantung saat survey primer adan akan memperhatikan perubahnnya kemudian. Bila nadi korban pada saat inspirasi menghilang (pulsus paradoksus), mungkin korban tersebut mengalami tamponade jantung. Diagnosis banding utama adalah tension pneumothorax. Pada tamponade jantung , pasien dalam keadaan syok dengan posisi trachea ditengah dan bunyi/suara nafas di paru kiri-kanan sama keras kecuali bila tamponade jantung disertai pneumothorax atau hemothorax.
Penatalaksanaan tamponade jantung
1.      Pastikan jalan terbuka dan beri oksigen
2.      Tamponade jantung akan cepat berubah menjadi fatal dan tidak dapat ditangani dilapangan , maka segera rujuk ke rumah sakit yang tepat.
3.      Hubungi tempat tujuan pelayanan medis
4.      Monitor saturasi oksigen dengan pulse oksimeter
5.      Monitor jantung bila alat tersedia
7.      Ruptur Aorta Traumatik
Merupakan penyebab kematian cepat tersering dari kecelakaan kendaraan motor atau jatuh dari suatu ketinggian. 90 % penderita meninggal dengan segera. Diagnosa dini dan pembedahan dapat menyelamatkan nyawa. Robekan aorta torakalis biasanya akibat dari cedera deselerasi dengan jantung dan arcus aorta yang tiba-tiba bergerak ke anterior (benturan ke 3), merobek aorta yang sebelumnya berikatan ligamentum arteriosum . Pada 10% kasus tidak langsung tampak perdarahan yang nyata, robekan aorta ini tertutup jaringan sekitarnya dan lapisan adventitia. Tetapi ini hanya sementara dan tetap akan rupture dalam beberapa jam bila tidak dilakukan pembedahan.
Diagnosa ruptur aorta traumatic sulit ditegakkan dilapangan , bahkan di rumah sakit juga sering terlewatkan. Riwayat/mekanisme kecelakaan merupakan hal yang sangat penting,karena pada banyak penderita tidak dijumpai tanda-tanda trauma thorax yang nyata. Informasi seberapa parah mobil, kerusakan kemudi dengan cedera deseleerasi atau ketinggian berapa penderita jatuh sangat penting. Pada keadaan yang sangat jarang , mungkin didapatkan hipertensi anggota gerak atas dan pulsasi yang berkurang pada tungkai bawah.
Penatalaksanaan
1.      Pastikan jalan nafas terbuka
2.      Beri Oksigen
3.      Segera rujuk ke rumah sakit yang tepat
4.      Hubungi tempat tujuan pelayanan medis
5.      Monitor saturasi oksigen dengan pulse oximeter
6.      Monitor jantung bila tersedia


DAFTAR PUSTAKA
Andrew H. Travers, Thomas D. Rea, Bentley J. Bobrow, Dana P. Edelson, Robert A.Berg, Michael R. Sayre, Marc D. Berg, Leon Chameides, Robert E. O'Connor and Robert A. Swor. 2010. CPR Overview. American Heart Association. Volume 4
David Markenson, Jeffrey D. Ferguson, Leon Chameides, Pascal Cassan, Kin-Lai  Chung, Jonathan Epstein, Louis Gonzales, Rita Ann Herrington, Jeffrey L. Pellegrino, Norda Ratcliff and Adam Singer. 2010. First Aid. American Heart Association. Volume 17

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar