Minggu, 25 November 2012

Seni Budaya Provinsi Sumatera Utara


 
Seni Budaya Provinsi Sumatera Utara
A.    seni Musik
1)      Oloan
Oloan adalah salah satu gung berpencu yang terdapatpada Batak Toba. Oloan dimainkan secara bersamaandengan tiga buah gung yang lain dalam satu ensambel,sehingga jumlahnya empat buah, yang juga dimainkanoleh empat orang pemain. Keempat gung ini biasadisebut dengan ogung, namun masing-masing penamaanogung ini dibedakan berdasarkan peranannya di dalamensambel musik.Oloan ini terbuat dari bahanmetal/perunggu dengan sistem cetak. Sekarang ini bahan gung ini sudah banyak terbuat dari bahan besi platyang dibentuk sedemikian rupa. Untuk membedakannya dengan suara gung lainnya maka tuning yang dilakukanadalah dengan menempelkan getah puli (sejenis pohonenau) dibagian dalam gung tersebut. Semakin banyakgetah puli tersebut, maka semakin rendahlah suara gungtersebut. Gung oloan berukuran garis menengah lebihkurang 32,5 cm, tinggi 7 cm, dan bendulan (pencu) ditengah dengan diameter lebih kurang 10 cm. Oloan dipukul pencunya dengan stick yang terbuat dari kayudan pangkal ujungnya dilapisi dengan kain atau karet.Gung oloan selalu diikuti oleh gung ihutan denganritem yang sama, namun tidak akan pernah jatuh padaritem yang sama (canon ritmik).
2)      Ihutan
Seperti sudah dijelaskan di atas, bahwa ihutan jugaadalah merupakan gung berpencu yang digunakan dalamsatu ensambel dengan tiga gung lainnya.Yangmembedakannya dengan gong lainnya adalah ukurannya,bunyi, dan teknik permainannya. Ihutan berukurandengan garis menengah (diameter) lebih kecil sedikitdari oloan, yaitu 31 cm, tinggi (tebal) 8 cm, dan diameter pencu lebih kurang 11 cm. Ritemnya konstandan bersahut-sahutan dengan gong oloan (litany),sehingga bunyi sahut-sahutan antara dua gong inisecara onomatope disebut polol-polol. Gong ini jugadimainkan dengan mnggunakan satu stick yang terbuatdari kayu yang diobungkus dengan kain atau karet.Dimainkan oleh satu orang pemain.
3)      Panggora
Panggora juga adalah satu buah gong yang berpencu yangdimainkan oleh satu orang.Bunyi dari gung ini adalahpok. Bunyi ini timbul adalah karena gong ini dimainkandengan memukul pencunya dengan stick sambil berdiridan sisi gong tersebut dimute dengan tangan. Gong ini adalah gong yang paling besar dinatara keempat gongyang ada. Ukurannya adalah garis menengah 37 cm,tinggi (tebal) 6 cm dan diameter pencunya lebih kurang 13 cm.
4)      Doal
Doal juga adalah gong berpencu yang dimainkan secara bersahut-sahutan dengan panggora dengan bunyi secaraonomatopenya adalah kel sehingga apabila dimainkansecara bersamaan dengan gong panggora akan kedengaranpok – kel – pok – kel dan seterusnya dengan ritem yangtidak berubah-ubah sampai kompisisi sebuah gondang(lagu) habis.
5)      Hesek
Hesek adalah instrumen musik pembawa tempo utama dalamensambel musik gondang sabangunan.Hesek ini merupakanalat musik perkusi konkusi. Hesek ini terbuat daribahan metal yang terdiri dari dua buah dengan bentuksama, yaitu seperti cymbal, namun ukurannya relative jauh lebih kecil dengan diameter lebih kurang 10-15cm, dan dua buah alat tersebut dihubungkan dengantali. Namun sekarang ini alat musik ini terkadangdigunakan sebuah besi saja, bahkan kadang-kadang daribotol saja.
6)      Garantung
Alat musik ini dimainkan dengan menggunakan dua buahstik untuk tangan kiri dan tangan kanan.Sementaratangan kiri berfungsi juga sebagai pembawa melodi danpembawa ritem, yaitu tangan kiri memukul bagiantangkai garantung dan wilahan sekaligus dalammemainkan sebuah lagu.Alat musik ini dapat dimainkansecara solo (tunggal), namun dapat juga dimainkandalam satu ensambel.
7)      Gordang
Gendang Batak Toba sering sekali disebut orang gondangatau taganing. Memang ke dua unsur tersebut terdapatdalam gendang tersebut, hanya saja secara detail bahwagondang dan taganing meskipun keduanya adalah termasukklasifikasi membranofon dan bentuknya juga hampir sama(hanya perbedaan ukuran), namun keduanya adalahberbeda.
Pengertian gondang sendiri bagi masyarakat Batak padaumumnya mempunyai beberapa pengertian tergantungdengan imbuhan kata apa yang melekat dengan katagondang tersebut. Setidaknya ada empat pengertiangondang (Toba), gendang (Karo), gordang (Mandailing),genderang (Pak-Pak Dairi), gonrang (Simalungun), padamasyarakat ini, yaitu (1) sebagai nama lagu, (2)sebagai upacara, (3) sebagai instrumen, dan (4)sebagai ensambel.
Gordang adalah gendang yang paling besar yang terdapatpada masyarakat Batak Toba, yaitu gendang yangdiletakkan pada sebelah kanan pemain di rak gendangtersebut.Gordang ini biasanya dimainkan oleh satuorang pemain dengan menggunakan dua buah stik.Gordangadalah merupakan bagian dari gendang yang lain(taganing). Gendang Toba adalah salah satunya gendangyang melodis yang terdapat di Indonesia .Oleh karenalebih bersifat melodis dari perkusif, maka gondang inimenurut klasifikasi Horn von Bostel dan Curt Sachdiklasifikasikan lebih khusus lagi yang disebut dengandrum-chime.Gordang merupakan gendang satu sisiberbentuk konis dengan tinggi lebih kurang 80 - 120 cmdengan diameter bagian atas (membran) lebih kurang 30–35 cm, dan dia meter bagian bawah lebih kurang 29 cm.
Gordang ini terbuat dari kayu nangka yang dilobangibagian dalamnya, kemudian ditutuip dengan kulit lembupada sisi atas, dan sisi bawah sebagai pasak untukmengencangkan tali (lacing) yang terbuat dari rotan(rattan).Bagian yang dipukul dari gendang ini bukanhanya bagian membrannya, tetapi juga bagian sisinyauntuk menghasilkan ritem tertentu secaraberulang-ulang.Ritemnya lebih bersifat konstan.
Gordang biasanya dimainkan secara bersamaan dengantaganing.Gordang diletakkan disebelah kanan pemain(pargocci). Secara pintas gordang taganing adalahdianggap satu set karena bentuknya juga hampir sama,hanya saja dibedakan ukuran, letaknya juga dalamensambel adalah dalam satu rak (hanger) yang sama.
8)      Taganing
Taganing adalah drum set melodis (drum-chime), yaituterdiri dari lima buah gendang yang gantungkan dalamsebuah rak. Bentuknya sama dengan gordang, hanyaukurannya bermacam-macam. Yang paling besar adalahgendang paling kanan, dan semakin ke kiri ukurannyasemakin kecil.Nadanya juga demikian, semakin ke kirisemakin tinggi nadanya.Taganing ini dimainkan olehsatu atau 2 orang dengan menggunakan dua buah stik.Dibanding dengan gordang yang rtelatif konstan, makataganing adalah melodis.
9)      Odap
Odap adalah gendang dua sisi berbentuk konis.Odapjuga terbuat dari bahan kayu nangka dan kulit lembuserta tali pengencang/pengikat terbuat dari rotan.
Ukuran tingginya lebih kurang 34 –37 cm, diametermembran sisi satu 26 cm, dan diametermembran sisi 2lebih kurang 12 –14 cm. Cara memainkannya adalah,bagian gendang dijepit dengan kaki, lalu dipukuldengan alat pemukul, sehingga bunyinya menghasilkansuara dap…, dap…, dap…, dan seterusnya. Alat musik inijuga dipakai dalam ensambel gondang sabangunan.
10)  Sarune Bolon
Sarune bolon (aerophone double reed) adalah alat music tiup yang paling besar yang terdapat pada masyarakatToba. Alat musik ini digunakan dalam ensambel music yang paling besar juga, yaitu gondang bolon (artinya :ensambel besar). Sarune bolon dalam ensambel berfungsisebagai pembawa melodi utama.Dalam ensambel gondangbolon biasanya hanya dimainkan satu buah saja.pemainnya disebut parsarune.
Teknik bermain sarune ini adalah dengan menggunakanistilah marsiulak hosa (circular breathing), yangartinya, seorang pemain sarune dapat melakukan tiupantanpa putus-putus dengan mengatur pernapasan, sambilmenghirup udara kembali lewat hidung sembari meniupsarune.Teknik ini dikenal hampir pada semua etnisBatak.Tetapi penamaan untuk itu berbeda-beda, sepertidi Karo disebut pulunama.Sarune ini terbuat dari kayu dan terdiri dari tigabagian utama, yaitu (1) pangkal ujung sebagairesonator, (2) batangnya, yang sekaligus juga sebagaitempat lobang nada, dan (3) pangkal ujung penghasilbunyi dari lidah (reed) yang terbuat dari daun kelapahijau yang dilipat sedemikian rupa yang diletakkandalam sebuah pipa kecil dari logam, dan ditempelkan kebagian badan sarune tersebut.
11)  Sarune Bulu
Sarune bulu (sarune bambu) seperti namanya adalahsarune (aerophone-single reed, seperti Clarinet)terbuat dari bahan bambu. Sarune ini terbuat dari saturuas bambu yang kedua ujungnya bolong (tanpa ruas)yang panjangnya kira-kira lebih kurang 10 – 12 cm,dengan diameter 1 – 2 cm. Bambu ini dibuat lobang 5biji dengan ukuran yang berbeda-beda. Pada pangkalujung yang satu diletakkan lidah (reed) dari bamboo yang dicungkil sebagian badannya untuk dijadikan alatpenggetar bunyi.Lidahnya ini dimasukkan ke batangsarune tersebut, dan bisa dicopot-copot. Panjang lidahini sendiri lebih kurang 5 cm. Sarune ini diMandailing juga dikenal dengan nama yang sama.
12)  Sulim
Sulim (Aerophone : side blown flute) adalah alat musiktiup yang terbuat dari bambu seperti seruling atausuling. Sulim ini panjangnya berbeda-beda tergantungnada dasar yang mau dihasilkan.Sulim ini mempunyai 6lobang nada dengan jarak antara satu lobang nadadengan lobang nada lainnya dilakukan berdasarkanpengukuran-pengukuran tradisional.Namun secara melodiyang dihasilkan suling ini meskipun dapat jugamemainkan lagu-lagu minor, tetapi lebih cenderungmemainkan tangga nada mayor (major scale) dengan nadadiatonis.
13)  Ole-Ole
Ole-ole (Aerophone : multi-reed) adalah alat music tiup yang sebenarnya termasuk ke dalam jenis alatmusik bersifat solo instrumen. Alat musik ini terbuatdari satu ruas batang padi dan pada pangkal ujungdekat ruasnya dipecah-pecah sedemikian rupa, sehinggapecahan batang ini menjadi alat penggetar udarasebagai penghasil bunyi (multi lidah/reed).Alat music ini juga terkadang dibuat lobang nada pada batangnya.Banyak lobang nada tidak beraturan tergantung kepadapembuat dan nada-nada yang ingin dicapai.Hal inikarena alat ini lebih bersifat hiburan pribadi.Pada pangkal ujungnya digulung daun tebu atau daunkelapa sebagai resonatornya, sehingga suara yangdihasilkan lebih keras dan bisa terdengar jauh.Alatmusik ini bersifat musiman, yaitu ketika panen tiba.
14)  keteng-keteng
Keteng-keteng sebenarnya adalah dapat dikelompokkandalam klasifikasi idiofon dan juga kordofon.Olehsebab itu lebih khusus tentang instrumen ini dapatdikatakan ke dalam kelompok idiokordofon, yaitu alatmusik idiofon yang mempunyai senar, dan senarnya itusendiri terbuat dari badannya sendiri.
Keteng-keteng terbuat dari satu ruas buluh belin(bambu betung) dengan panjang lebih kurang 35 – 50 cm,tergantung panjang ruas bambunya.Pada bagian badan(ruas) bambu tersebut dicungkil untuk membuatsenarnya, yang terdiri dari dua senar.Cungkilantersebut di kencangkan dengan mengganjal dengan kayu.Kekencangan ukuran antara senar yang satu dengan senaryang lain adalah disetem berdasrkan kayu pengganjaltersebut. Meskipun instrumen ini mempunyai nada,tetapi dalam permainannya instrumen ini lebih bersipatperkusif. Oleh sebab itu kekencangan talinya diukuruntuk mewakili bunyi instrumen Karo yang lain, suarasenar satu dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu untukmewakili bunyi gendang anak (membranophone :conical-drum) dan bunyi penganak (small gong).Sedangkan senar yang kedua adalah untuk mewakili bunyigung.Oleh sebab itu satu instrumen musik inisebenarnya mewakili tiga bunyi instrumen musik Karo,yaitu gendang anak, gung dan penganak.Didepan senar kedua di badan bambu biasanya dibuat lobang resonator, dan di senar dua itu sendiridilengketkan bambu persis di atas lobang resonator itusendiri untuk menghasilkan suara gung yang erbolo-boloseperti yang telah dijelaskan di atas.
15)  Lobat dan Serdam
Lobat dan serdam (end-blown flute) adalah merupakansolo instrumen juga walaupun terkadang dipakai jugadalam ensambel musik. Lobat biasa juga ditiupseseorang yang melakukan kegiatan merkemenjen (menyadap getah kemenyan ) serta bernyanyi tentangkeluh kesah kehidupannya. Nyanyian ini disebut denganodhong-odhong.Odhong-odhong dinyanyikan diatas pohon,atau nyanyian rimba.Serdam biasanya dipakai seseoranguntuk melepaskan lelah ketika mermakan (menggembalakanternak dipadang rumput).
Disamping alat musik tersebut juga ada ensambel music genderang si pitu, yang terdiri dari 7 buah gendang(drum set) yang diletakkan pada satu rak. Permainankalondang biasanya dimainkan dengan melodi yang samadengan vokal dengan pukulan gendang yang variatif.

16)  Simalungun
Pada masyarakat Simalungun terdapat sedikitnya duabuah ensambel musik disamping instrumen-instrumen yangbersifat solo.Ensambel yang paling besar adalahgonrang sipitu-pitu, dan ensambel yang paling kecil adalah gonrang sidua-dua. Gonrang sipitu-pitu dalahterdiri dari beberapa alat musik yaitu, satu setgonrang yaitu gendang satu sisi yang terdiri daritujuh buah anak yang diletakkan dalam satu rak,dipukul dengan stik. Gendang ini sebagai pembawa ritemdan ritem variatif.
Disamping itu sebagai pembawa melodi adalah satu buahsarune, (aerofon, double reed) dan dua buah gong,yaitu gong jantan dan gong betina, serta dua dua buahgong kecil yang disebut dengan mong-mongan. Saruneyang digunakan adalah terbuat dari kayu, dan ada jugayang terbuat dari bambu.
Ensambel lainnya adalah gonrang sidua-dua.Ensambel ini lebih kecil dari gonrang sipitu-pitu.Sebagai pembawa ritem dalam ensambel ini adalah dua buah gendang dua sisi yang dipukul dengan stik untuk sisisebelah kanan, dan pukulan dengan tangan untuk sebelah kiri. Sedangkan untuk pembawa melodi dan gong adalah prinsipnya sama saja.
Instrumen yang lain juga ditemukan di Simalungunadalah saligung (nose flute), yaitu sejenis flute yang ditiup dengan hidung.Jatjaulul atau tung-teng (idiokordo) adalah instrumen yang terbuat dari satu ruas bambu yang bagian badannya dicungkil sebagai senar, dan senar ini dipukul dengan dua buah stik.Alat musik lain adalah husapi (long-neck lute), yaitu kecapi bertali dua dengan cara dipetik.
17)  Angkola
Pada masyarakat Angkola juga ditemukan instrumen musikyang banyak dipengaruhi dari berbagai etnis, yaitu minangkabau, melayu, dan Aceh.Dalam tradisional Angkola juga ditemukan musik seperti zapin, yaitu musik yang bernuansa ke-Islaman.Juga terdapat jenis kesenian sikambang dengan menggunakan vokal dan alat musik pukul gendang seperi frame-drum, seperti gendang ronggeng, biola, rebab dan ada juga gendang marwas yang dipukul dengan tangan.
B.     seni Tari
Serampang Duabelas: Tari Tradisional Melayu Kesultanan Serdang, Sumatra Utara
Ketika di hati sepasang pemuda muncul benih-benih cinta
Ketika di hati sepasang pemuda muncul benih-benih cinta
A. Asal-usul
Tari Serampang Duabelas merupakan tarian tradisional Melayu yang berkembang di bawah Kesultanan Serdang. Tarian ini diciptakan oleh Sauti pada tahun 1940-an dan digubah ulang oleh penciptanya antara tahun 1950-1960 .Sebelum bernama Serampang Duabelas, tarian ini bernama Tari Pulau Sari, sesuai dengan judul lagu yang mengiringi tarian ini, yaitu lagu Pulau Sari
Sedikitnya ada dua alasan mengapa nama Tari Pulau Sari diganti Serampang Duabelas. Pertama, nama Pulau Sari kurang tepat karena tarian ini bertempo cepat (quick step). Menurut Tengku Mira Sinar, nama tarian yang diawali kata “pulau” biasanya bertempo rumba, seperti Tari Pulau Kampai dan Tari Pulau Putri. Sedangkan Tari Serampang Duabelas memiliki gerakan bertempo cepat seperti Tari Serampang Laut.Berdasarkan hal tersebut, Tari Pulau Sari lebih tepat disebut Tari Serampang Duabelas.Nama duabelas sendiri berarti tarian dengan gerakan tercepat di antara lagu yang bernama serampang (Sinar, 2009: 48).Kedua, penamaan Tari Serampang Duabelas merujuk pada ragam gerak tarinya yang berjumlah 12, yaitu: pertemuan pertama, cinta meresap, memendam cinta, menggila mabuk kepayang, isyarat tanda cinta, balasan isyarat, menduga, masih belum percaya, jawaban, pinang-meminang, mengantar pengantin, dan pertemuan kasih. Penjelasan tentang ragam gerak Tari Serampang Duabelas akan dibahas kemudian.
Menurut Tengku Mira Sinar, tarian ini merupakan hasil perpaduan gerak antara tarian Portugis dan Melayu Serdang. Pengaruh Portugis tersebut dapat dilihat pada keindahan gerak tarinya dan kedinamisan irama musik pengiringnya.
Seni Budaya Portugis memang mempengaruhi bangsa Melayu, terlihat dari gerak tari tradisionalnya (Folklore) dan irama musik tari yang dinamis, dapat kita lihat dari tarian Serampang XII yang iramanya tari lagu dua. Namun kecepatannya (2/4) digandakan, gerakan kaki yang melompat-lompat dan lenggok badan serta tangan yang lincah persis seperti tarian Portugis. Sebagai seorang penari tentu saya takjub dengan adanya kaitan budaya antara kedua negara ini, dan sebagai puteri Melayu Serdang, dalam khayalan saya bayangkan ketika guru Sauti menari di hadapan Sultan Sulaiman di Istana Kota Galuh Perbaungan. Sungguh betapa cerdas beliau dengan imajinasinya menggabungkan gerak tari Portugis dan Melayu Serdang, sehingga tercipta tari Serampang XII yang terkenal di seluruh dunia itu..   
Tari Serampang Duabelas berkisah tentang cinta suci dua anak manusia yang muncul sejak pandangan pertama dan diakhiri dengan pernikahan yang direstui oleh kedua orang tua sang dara dan teruna. Oleh karena menceritakan proses bertemunya dua hati tersebut, maka tarian ini biasanya dimainkan secara berpasangan, laki-laki dan perempuan. Namun demikian, pada awal perkembangannya tarian ini hanya dibawakan oleh laki-laki karena kondisi masyarakat pada waktu itu melarang perempuan tampil di depan umum, apalagi memperlihatkan lenggak-lenggok tubuhnya .
Diperbolehkannya perempuan memainkan Tari Serampang Duabelas ternyata berpengaruh positif terhadap perkembangan tarian ini. Serampang Duabelas tidak hanya berkembang dan dikenal oleh masyarakat di wilayah Kesultanan Serdang, tetapi juga menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Riau, Jambi, Kalimantan, Sulawesi, bahkan sampai ke Maluku. Bahkan, tarian ini sering dipentaskan di manca negara, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Hongkong
Keberadaan Tari Serampang Duabelas yang semakin mendunia ternyata memantik kegelisahan sebagian masyarakat Serdang Bedagai pada khususnya, dan Sumatra Utara pada umumnya.Kekhawatiran tersebut muncul karena dua hal.Pertama, persebaran Tari Serampang Duabelas ke berbagai daerah dan negara tidak diimbangi dengan transformasi kualitasnya.Artinya, transformasi Tari Serampang Duabelas terjadi hanya pada bentuknya saja, bukan kepada tekniknya.Menurut Jose Rizal Firdaus (Kompas, 1 Juli 2008), salah satu yang mengkhawatirkan dari perkembangan Tari Serampang Duabelas adalah pendangkalan dalam hal teknik menari.Hal ini disebabkan oleh orang-orang dari luar daerah Deli Serdang yang memainkan tarian ini tidak didukung oleh penguasaan terhadap teknik yang benar.Akibatnya, terjadi pergeseran teknik tari dari aslinya.
Kedua, minimnya kepedulian generasi muda kepada Tari Serampang Duabelas.Meluasnya persebaran tarian ini ke berbagai daerah ternyata tidak diimbangi dengan meningkatnya kecintaan generasi muda Serdang Bedagai terhadap tarian ini. Kondisi ini tidak saja dapat menyebabkan Tari Serampang Duabelas hilang karena tidak ada penerusnya, tapi juga bisa hilang karena diklaim oleh pihak lain (Kompas, 1 Juli 2008).
Kedua fenomena tersebut harus disikapi secara cepat dan tepat agar Tari Serampang Duabelas tidak saja lestari, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Serdang Bedagai pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Sedikitnya ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan Tari Serampang Duabelas.Pertama, menjadikan Tari Serampang Duabelas sebagai aset daerah.Artinya, pemerintah harus melakukan proteksi agar tarian ini tidak diklaim oleh pihak lain, yaitu dengan mematenkan hak ciptanya.
Kedua, mendekatkan Tari Serampang Duabelas kepada anak-anak dan remaja.Cara yang dapat dilakukan adalah dengan menjadikan Tari Serampang Duabelas sebagai salah satu materi pengajaran muatan lokal.Dengan menjadikan Tari Serampang Duabelas sebagai materi muatan lokal, maka anak-anak sejak dini diajarkan untuk mengetahui sejarah keberadaannya dan memahami nilai-nilai yang terkandung di dalam setiap geraknya. Dengan cara ini, maka kita telah berusaha menanamkan kepada generasi muda rasa cinta, bangga, dan rasa memiliki terhadap Tari Serampang Duabelas.
Ketiga, menyelenggarakan perlombaan rutin Tari Serampang Duabelas.Menyelenggarakan perlombaan tari artinya mencari orang yang mempunyai kemampuan terbaik dalam menari. Dalam perlombaan, hanya yang terbaiklah yang akan menjadi juara. Untuk menjadi yang terbaik, setiap orang harus belajar dengan sungguh-sungguh agar mempunyai kemampuan menari yang lebih baik dari orang lain. Melalui strategi ini, setiap orang secara halus “dipaksa” untuk mempelajari Tari Serampang Duabelas secara baik dan benar. Jika cara ini berjalan, maka ada dua hal yang dicapai sekaligus, yaitu lestarinya Tari Serampang Duabelas pada satu sisi, dan terjaganya kualitas teknik Tari Serampang Duabelas pada sisi yang lain.
Keempat, memberikan jaminan kesejahteraan hidup para pelestarinya. Para stake holder, khususnya pemerintah, perlu membuat terobosan agar para pelestari Tari Serampang Duabelas, dan juga para pelestari warisan budaya lainnya, dapat hidup secara salayak. Para pelestari kebudayaan kebudayaan tentu akan terus bekerja dan mengabdikan hidupnya untuk melestarikan warisan budaya jika apa yang dilakukan tidak saja secara normatif menjaga kelestarian budaya, tetapi juga secara praktis menjadi penopang keberlangsungan hidupnya. Seringkali warisan budaya dibiarkan terlantar karena “tidak memberikan” manfaat kepada pemiliknya.
C.     Seni Rupa
1.      Rumah adat batak
Rumah Adat Batak Toba disebut Rumah Bolon, yang memiliki bangunan empat persegi panjang yang kadang-kadang ditempati oleh 5 sampai 6 keluarga.Memasuki Rumah Bolon ini harus menaiki tangga yang terletak di tengah-tengah rumah, dengan jumlah anak tangga yang ganjil.Bila orang hendak masuk rumah tersebut, harus menundukkan kepala agar tidak terbentur pada balok yang melintang.Hal ini diartikan tamu harus menghormati si pemilik rumah.
Lantai rumah adat batak ini kadang-kadang sampai 1,75m di atas tanah dan bagian bawah dipergunakan untuk memelihara hewan, seperti babi, ayam, dan sebagainya.Pintu masuk rumah adat ini, dahulunya memiliki 2 macam daun pintu yaitu daun pintu yang horizontal dan vertikal, tapi sekarang daun pintu yang horizontal tak dipakai lagi.Ruangan dalam rumah adat merupakan ruangan terbuka tanpa kamar-kamar, walaupun bersamaan disitu lebih dari satu keluarga, tapi bukan berarti tidak ada pembagian ruangan.Karena dalam rumah adat ini pembagian ruangan dibatasi oleh adat mereka yang kuat.
Ruangan di belakang sudut sebelah kanan dinamakan jabu bong, yang ditempati oleh kepala rumah atau porjabu bong, dengan isteri dan anak-anak yang masih kecil. Namun di sudut kiri berhadapan dengan Jabu bong dinamakan Jabu Soding, yang dikhususkan untuk anak perempuan yang telah menikah tapi belum mempunyai rumah sendiri. Sedangkan untuk sudut kiri depan dinamakan Jabu Suhat, diperuntukkan bagi anak laki-laki tertua yang sudah nikah dan di seberangnya disebut Tampar Piring diperuntukkan bagi tamu.
 Jika keluarga besar maka diadakan tempat di antara dua ruang atau jabu yang berdempetan, sehingga ruangan bertambah dua lagi dan ruangan ini disebut Jabu Tonga-ronga ni jabu rona. Walaupun rumah tersebut berdempetan, tiap keluarga mempunyai dapur sendiri yang terletak di belakang rumah, berupa bangunan tambahan.Dan di antara dua deretan ruangan yakni di tengah-tengah rumah merupakan daerah netral yang disebut telaga dan berfungsi sebagai tempat bermusyawarah.
Rumah adat Batak Toba berdasarkan fungsinya dapat dibedakan ke dalam rumah yang digunakan untuk tempat tinggal keluarga disebut ruma, dan rumah yang digunakan sebagai tempat penyimpanan (lumbung) disebut Sopo.Bahan-bahan bangunan terdiri dari kayu dengan tiang-tiang yang besar dan kokoh.Dinding dari papan atau tepas, lantai juga dari papan sedangkan atap dari ijuk atau daun rumbiah. Tipe khas rumah adat Batak Toba adalah bentuk atapnya yang melengkung dan pada ujung atap sebelah depan.
2.      Ukiran batak
·         Naga Morsarang atau Sahang
Datu adalah pemimpin upacara keagamaan asli Batak.Seorang datu memerlukan bermacam-macam tempat penyimpanan yang terbuat dari berbagai macam material untuk menyimpan ramuan gaibnya.Benda berbentuk kapal ini dikenal sebagai naga morsarang juga dikenal sebagai sahang, terdiri dari tanduk kerbau yang berongga yang permukaan luarnya diukir dengan ornamen khas batak.
Bagian ujung dari tanduk diukir dalam rupa orang yang sedang duduk.Bagian pangkal tanduk disumbat denganpenutup dari kayu berukir yang menggambarkan singa yang ditunggangi oleh empat orang.
·         Tunggal Panaluan
Tongkat magis orang Batak terdiri dari dua macam yaitu Tunggal Panaluan, kira-kira panjangnya 1,7 metres dan umumnya diukir dengan inda, dan Tunggal Malehat, yang lebih pendek dan biasanya dibuat dengan lebih sederhana. Tongkat ini adalah atribut para datu (dukun) Batak.Namun demikian tongkat bukanlah milik datu tetapi milik marga.Kepemilikan tongkat ini tampak dalam penggunaan tongkat ini, datu memakainya dalam acara yang melibatkan seluruh anggota marga, contohnya saat memanggil hujan, perayaan perang, dan acara menolak bala.Hal ini juga ditunjukkan oleh hiasan singa, fungsi utama tongkat ini adalah untuk melindungi anggota masyarakat dan kelangsungan marga.
·         Guri-guri

Sebelum penyebaran agama Kristen di tanah Batak meluas pada awal abad keduapuluh hadatuon (perdukunan) merupakan bagian penting dalam ritual keagamaan Batak asli.Pemuka agama yang biasanya dikenal sebagai Datu, menjalankan perdukunan baik yang sifatnya menyembuhkan maupun merusak dengan menggunakan berbagai macam perlengkapan.Peralatan datu yang paling keramat dan ampuh adalah guri-guri.Benda ini adalah tempat penyimpanan pupuk, suatu benda yang sangat ampuh terbuat dari korban manusia yang dibunuh dalam suatu upacara.Pupuk dipercaya dapat memerintahkan arwah si korban untuk melakukan perintah datu.Guri-guri seringkali terbuat dari keramik Cina yang diimpor dan diberi tutup ukiran Batak yang terbuat dari kayu.Kebanyakan penutup menggambarkan orang yang menunggang mahluk seperti kuda yang disebut singa.Singa yang merupakan gabungan dari aspek-aspek kuda, ular, harimau dan binatang-binatang lain adalah mahluk dalam mitologi Batak yang merupakan simbol kesuburan dan perlindungan alam.

·         Sigale-gale

Sebuah tradisi yang unik dalam seni patung Batak adalah boneka yang dikenal dengan nama si Galegale. Di masa yang lampau, si galegale muncul dalam acara penguburan dimana ia berfungsi sebaga pengganti anak laki-laki orang yang dikuburkan yang tidak pernah memiliki anak laki-laki dalam hidupnya. Boneka ini, digerakkan dengan tali temali yang menghubungkan berbagai bagian dari boneka tersebut yang dikendalikan oleh si pemain, turut menari (manortor) selama ritual penguburan bersama keluarga orang yang meninggal.Dengan bantuan bola yang dilembutkan dalam kepala boneka, beberapa boneka bahkan dapat dibuat seperti mengeluarkan air mata untuk “ayahnya” yang meninggal.Kepala si galegale ini diukir dengan roman muka yang sangat menarik. Alis mata dibuat dari tanduk kerbau dan daun telinganya diperindah dengan ornamen yang terbuat dari kuningan dikenal dengan nama sitepal.

·         Ornament kepala kuda


Secara tradisional, rumah Batak kaya dengan dekorasi design geometris dan gambar-gambar natural dengan warna-warna merah, putih dan hitam.Dekorasi utama sebuah rumah umumnya berukuran besar dengan ukiran kepala binatang digabungkan dengan motif-motif yang kompleks dan indah.
Ornamen arsitektur bagian samping rumah biasanya didominasi oleh kepala kuda.Ukiran ini bukan hanya untuk hiasan tetapi juga berfungsi sebagai pengawal gaib untuk memberikan perlindungan bagi penghuni rumah.Di daerah Batak Toba, kuda sering disembelih untuk penghormatan leluhur dan dipercaya memiliki kemampuan untuk menghantarkan seseorang berjumpa dengan leluhurnya.Kuda juga merupakan simbol status karena hanya orang-orang terhormat yang mampu memilikinya.

·         Ulos ragidop


Dalam tradisi perkawinan di masyarakat Batak Toba yang masih hidup hingga saat ini ayah pengantin pria memberikan sejenis kain yang dikenal dengan ulos ragidup kepada ibu mempelai wanita. Pemberian ini dimaksudkan untuk kesuburan (keturunan) bari pasangan tersebut dan memperkokoh tali persaudaraan kedua keluarga pengantin laki-laki dan keluarga perempuan. Kadangkala, ulos ragidup juga dipakai pada saat acara pemakaman untuk membungkus tulang belulang atau pelapis peti jenazah
D.    Seni Teater
1.      Teater tembat tembut
Salah satu teater tradisional di Sumatera Utara yang cukup terkenal dalam
konteks pariwisata global adalah tembut-tembut dari budaya Karo. Di Simalungun
terdapat teater Toping-toping atau Huda-huda. Sementara dalam kebudayaan Melayu
contohnya adalah bangsawan, tonil, dan sandiwara. Pada masyarakat Toba adalah
Opera Batak.
 Tembut-tembut di daerah Karo yang terkenal sampai sekarang adalah yang ada di
daerah Karo yang terkenal sampai sekarang adalah yang ada di daerah Seberaya
sehingga sering disebut tembut-tembut Seberaya. Tema ceritanya adalah hiburan
bagi raja yang ditinggal mati anaknya.
Kapan terciptanya tembut-tembut Seberaya tidak dapat dipastikan secara tepat.
 Namun dapat diperkirakan berdasarkan tahun serta penyajiannya di Batavia fair
yaitu tahun 1920. Berdasarkan tahun di atas, para informan memperkirakan
terciptanya tembut-tembut adalah sekitar tahun 1915. Awalnya berfungsi hiburan.
Dalam arti digunakan untuk menyenangkan hati masyarakat yang menontonnya. Namun
dalam perkembangan selanjutnya penyajiannya digunakan dalam konteks upacara
ndilo wari udan (upacara memanggil hujan). Kapan mulai pemakaian tembut-tembut
dalam konteks ndilo wari udan pun tidak diketahui secara pasti.
 Tembut-tembut Seberaya terdiri dari dua jenis karakter (perwajahan) yaitu
karakter manusia dan karakter hewan. Karakter manusia terdiri dari empat tokoh
 (peran) yaitu satu bapa (ayah) satu nande (ibu), sat anak dilaki (putra) dan
satu anak diberu (putri). Karakter binatang hanya mempunyai satu tokoh (peran)
yaitu di gurda-gurdi (burung enggang).
 Jalannya pertunjukan tembut-tembut adalah dimulai dengan membawa tembut-tembut
serta kelengkapannya ke tempat penyajian. Di tempat penyajian masing-masing
pemain memakai tembut-tembut dan pakaiannya sesuai dengan perannya
masing-masing.
 Selepas itu, pemimpin penyajian menyuruh pemain musik supaya memainkan gendang
dengan ucapan; “Palu gendang end†artinya “Mainkan musik.†Pemain musik
memainkan gendang dan pemain tembut-tembut mulai menari. Posisi pemaih
tembut-tembut menari pada mulanya sejajar membelakangi pemain musik. Pososi ini
dipertahankan hingga pemusik memainkan dua buah lagu yaitu lagu Perang Empat
Kali dan lagu Simalungen Rayat.
Pada lagu ketiga , yaitu lagu kuda-kuda posisi penari mulai berubah, pola
tarinya tidak mempunyai struktur yang baku dilakukan secara improvisasi. Penari
yang memainkan karakter burung enggang selalu seolah-olah ingin mematuk tokoh
 (peran) anak diberu (anak perempuan). Penari yang berkarakter ayah berusaha
menghalangi gangguan burung enggang tersebut. (sn)
2.      Opera batak
Sejarah Opera Batak
Salah satu dari perspektif munculnya Opera Batak pengaruh yang diterimanya diperkirakan muncul dari Teater Bangsawan (1870) (lihat: OASIS Desember 1997 : 46-53). Teater Bangsawan merupakan bagian seni pertunjukan rumpun Melayu di Malaysia, Singapura, dan Sumatera yang awalnya berasal dari grup Pushi Indera Bangsawan of Penang (pendiri Mamak Pushi) tahun 1885. Panggung Teater Bangsawan masih prosenium dengan layar latar yang dilukis sebagai setting adegan  dengan layar panggung (buka –tutup). Sumber cerita lakon Teater bangsawan daimbil dari cerita-hikayat Melayu, populer, dan dari Arab, Hindustan serta Cina dengan lakon dan teks yang longgar (tanpa naskah baku). Pengembangan dialog juga diserahkan kepada pemain. Teater Bangsawan tidak disambut dengan baik di Pulau Jawa (idiom hanya diadopsi kemudian oleh Teater Stambul yang dirintis oleh seorang Turki bernama Jaafar) - (Tommy F. Awuy, Ed. 1999 : 212-213). Namun di zaman Perkebunan di Deli “dipelihara” para Sultan., seperti Indian Ratoe. Di Riau Teater Bangsawan mirip  dengan Makyong atau Opera Melayu yang berasal dari Patani (Thailand Selatan) dan Selangor Malaysia.
Model pertunjukan Teater Bangsawan itulah yang memberi pengaruh ide dan pertunjukan Opera Batak melalui pesisir dan Tapanuli.Salah satu perintis Opera BAtak dikenal melalui Master Tilhang Gultom (+ 1896-1970), meskipun pelabelan opera batak tidak langsung dilakukan untuk kelompoknya.
Ceritanya berawal di tanah kurang subur Sitamiang, Onan Runggu (Samosir) sebagai kelompok penggembala kerbau (salah satunya Tilhang Gultom, anak kelima dari Raja Sarumbosi Gultom). Diawali penampilan Tiga orang parhasapi (cikal bakal sebutan Tilhang Parhasapi, 1925) penampilan kelompok Tilhang  berawal di rumah-rumah sebelum undangan dari luar daerah  yang kemudian dimainkan oleh 12 anggota dan dukungan KK. Gari Gultom, bapatua Tilhang. Awalnya dengan menggunakan musik dari kecapi dan seruling, lalu kemudian berkembang dengan menggunakan serunai, dan garantung (gamelan Batak Toba).
Tahun1927 Tilhang pindah ke Tigadolok (Simalungun) dan mempunyai pemain 50 orang. Aktivitas Tilhang didukung oleh Dos Ni Roha (1914-1938), gerakan identitas dan nasionalisme Batak dan menjadi sponsor utama grup Tilhang. Dan pada tahun 1934 ada pertunjukan keliling sampai ke Penang dan Semenanjung Melayu (Daniel Perret, 2010 : 338-350). Jadi sebagai grup Tilhang, bentuk Opera Batak mulai dikenal pada 1928 -1930. Perubahan nama grup masih dilakukan Tilhang sampai 1937, al: Tilhang Batak Hindia Toneel, Ria TOR, dan Tilhang Toneel Gezelschaap (Lihat: Drs. EK. Siahaan, 1981 : 10). Pada Zaman Jepang grup Tilhang bernama Sandiwara Asia Timur Raya (40 anggota).Warisan Tilhang Gultom tercatat ada 360 lagu, 12 tumba dan 24 judul lakon cerita. Grup Tilhang Gultom yang sangat terkenal adalah Serindo dan diwariskan kepada Gustafa Gultom sampai akhirnya dipimpin Zulkaidah Harahap
Serindo bukan satu-satunya grup Opera Batak. Ada sebanyak 30-an grup Opera Batak (Serada, Tiurma Opera, Dos Roha, Rompemas, dll). Di tahun
1985 Serindo dan Opera Batak mulai tenggelam karena masalah regenerasi, pengelolaan grup, dan pertarungan media tontonan (televisi, teater modern, dan filem).
Revitalisasi Opera Batak 2002
Sebelum tahun 2002 Opera Batak pernah digali dan diperkenalkan kembali secara parsial melalui rekaman kaset audio, gaya lawak “pakter tuak”, pembinaan kesenian daerah, dan proyek akademisi. Namun pada tahun 2002 bersama Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jakarta Opera Batak digali secara total dengan melahirkan sebuah grup perdontohan bernama Grup Opera Silindung (2002 – 2004).
Kemunculan grup percontohan itu didorong melalui program Revitalisasi Opera Batak. Pengembangan program itu dilakukan oleh Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) sejak September 2005.Target Revitalisasi Opera Batak selesai sampai 2012.sejumlah nama dan pihak yang menyumbangkan dana secara langsung melalui GOS dan PLOt. Pemkab Taput (pelatihan dan produksi 2002 - 2004), Lena Simanjuntak (kontrak sekretariat dan operasional 2005- 2012), Barbara Brouwer (kontrak sekretariat dan operasional 2006 - 2010), Bainfokom (Desember 2005), Pemkab Tobasa (Maret 2006) Pemkab Simalungun (Agustus, 2006), Panitia 100 Tahun Sisingamangaraja XII (Juni - Juli 2007), Tim Televisi Belanda dan Museum Apeldoorn (pengambilan gambar 2007 & royalti pameran 2008) Jhon Robert Simanjuntak (2007 - 2009),Grace Siregar (2008), Indra Nababan (2008), Panitia Pentas di Batam (Januari 2008 dan Desember 2010), Pempropsu (seminar, pelatihan, dan kontrak 3 tahun kedua 2008), Erasmus Huis (acara 2009 - 2010), Dr. Pudentia MPSS (biaya penginapan 3 orang di Jakarta, 2009), Panitia Pesta Danau Toba (2009 & 2010).
Melalui program revitalisasi dapat jelas diketahui dramaturgi Opera Batak ternyata tidak sinkron dan mirip seperti pertunjukan variatif .Jadi Opera Batak tidak dapat dibayangkan seperti opera yang muncul di Eropa.Namun citra peradaban yang diangkat melalui Opera Batak mencoba menjadi reperesentasi budaya Batak yang dianggap unik dan tinggi peradabannya melalui bahasa, musik, dan elemen-elemen tradisionalnya.
Elemen-elemen seni dalam Opera Batak adalah:
 a. Musik (ansamble musik tradisional; Batak (Toba), Melayu, Jawa; lagu-lagu)
 b.Tarian (Lima Puak Batak, Melayu)
c. Lakon Cerita (bersumber dari folklor, silsilah, mitiko-historis, sosial, dll)
 d. Pendukung (pencak silat, layar, aksi saweran, panggung terbuka.

Urutan Babak atau Adegan
 a. Ropol (domisol) untuk buka layar terdepan
 b. Penampilan Tari/Lagu/musik (minimal 3 repertoar) (layar tengah buka)
 c. Tutup layar/buka layar babak pembuka lakon cerita (disertai dengan prolog)
 d. Lagu/musik
 e. Lakon cerita (lanjutan )
 f. Situasi urutan berikutnya dapat diatur secara variatif dan spontan
 g. Penutup dengan lagu/tari/musik (tutup layar)

Elemen-elemen yang diolah dalam Opera Batak menjadikannya sebagai teater transisi yang muncul dari faktor tradisi lokal dan pengaruh dari luar Sumatera Utara (Hetty Siregar, Ed. Dkk, 2001 : 97-107) . Kilas balik atas tradisi lokal Batak dapat dilihat dengan adanyaTeater Tradisional Batak (upacara horjabius, sigale-gale, hoda-hoda (di Toba), ncibal, ndilo wari udan/gundala-gundala (Karo), huda-huda (Simalungun), dan lain-lain.Sementara pengaruhb dari luar sudah jelas melalui Teater bangsawan dan kemungkinan pembacaan atas naskah-naskah dari Barat yang digunakan oleh orang teater moder Indonesia. Orang pribumi awal menulis naskah drama di Indonesia salah satunya adalah Sanusi Pane dengan judul naskahnya: Bebasari. Kemungkinan besar Tilhang Gultom dapat membaca naskah-naskah drama tertulis sampai menjelang zaman kemerdekaan Indonesia, karena dia merupakan salah satu orang yang mengenyam pendidikan waktu itu.
Sifat teater transisi yang terkandung dalam Opera Batak disasarkan kepada kemungkinan sebagai berikut.
a. terkait dengan pertarungan situasi sosial-kultural
b. tak jarang dikategorikan sebagai teater rakyat
c. memiliki displin pemeranan yang kondusif, karena pengaruh teks dan tradisi lisan
d. gampang terkait dengan situasi sosial-politik.
 e. Memiliki kemungkinan untuk terus berubah

PROGRAM REVITALISASI OPERA BATAK
Awalnya Program revitalisasi bersama Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) didasarkan pada hasil pemetaan potensi tradisi lisan di Sumatera Utara (tradisi HOHO, seni vokal Nias dan Opera Batak).Program itu terlaksana di Tarutung (Kabupaten Tapanuli Utara) 22 - 30 Agustus 2002 melalui seminar dan pelatihan yang diikuti 20 generasi muda.Pelatihan dilaksanakan dalam kaitan Otonomi Daerah dengan metode partisipatif (kordinasi dengan Prof Dr. Robert Sibarani, M.S dan Prof. H. Ahmad Samin Siregar. Program ini terlaksana atas kerjasama dengan Pemkab Tapanuli Utara dan Ford Foundation
Hasil Pelatihan dengan Simulasi dan Pertunjukan di beberapa tempat, termasuk pada Seminar ATL di Hotel Indonesia dan Promosi Tapanuli Utara di TMII tahun 2003
Sampai awal 2005 proses revitalisasi terlaksana melalui grup percontohan di Tarutung. Grup percontohan bernama Grup Opera Silindung
Dukungan revitalisasi dari Ritaoni Hutajulu untuk segmen rekonstruksi dan Ben Pasaribu untuk segmen modifikasi/modernisasi bersama Pusat Latihan Opera Batak (PLOt). Ide kehadiran PLOt dikonsolidasikan dengan Sitor Situmorang, Barbara Brouwer, dan Lena Simanjuntak dan beroperasi di Pematangsiantar sejak 12 September 2005.PLOt berfungsi sebagai fasilitator untuk generasi muda dan pemain Opera Batak terdahulu untuk pelatihan dan produksi. (www.hariansumutpos.com/.../membangun-opera-batak-bersama-plot...)
Sejumlah kegiatan di PLOt mendorong munculnya kegiatan Opera Batak di berbagai tempat, termasuk minat akademisi untuk meneliti ulang Opera Batak berdasarkan sudut-sudut tertentu, seperti tinjauan musikal, komparasi pertunjukan, arsitektur, penciptaan karya, sejarah, sosial, dan dokumenter . Juga terlibat program MAESTRO sejak 2007 dan bersama ATL melakukan verifikasi terhadap Zulkaidah Harahap  oase.kompas.com/read/2012/04/28/.../.Warisan.Terakhir.Opera.Batak) dan Alister Nainggolan
Dalam rangka 10 Tahun Revitalisasi Opera Batak, PLOt melakukan sejumlah agenda, antara lain: pemberian gelar khusus kepada sejumlah tokoh yang berkontribusi dalam revitalisasi (www.antaranews.com/.../mantan-sekda-sumut-dianugerahi-gelar-emp...), pentas keliling “mencari sijonaha” serta eksplorasi untuk ide acara 10 Tahun Revitalisasi di Jakarta pada akhir Agustus atau awal September 2012. Dana Operasional PLOt bersumber dari sisa hasil produksi dan sumbangan, hibah, sumbangan pribadi, dan fans.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar