Sabtu, 24 November 2012

Seni dan Budaya Provinsi riau ibukotanya pekan baru

Provinsi riau ibukotanya pekan baru
A.    SENI RUPA
Hasil seni rupa Riau yang perlu dicatat masih banyak, di antaranya adalah seni bangunan dan seni kerajinan. Kedua seni ini juga menunjukkan ciri khas Riau. Kerajinan tenun kain, anyaman, sulaman, tekat, renda, hiasan tudung saji, terandak, dan lainnya berkembang dengan baik. Kerajinan tenun Riau mempunyai banyak motif, seperti motif bunga, daun, binatang, awan larat (awan berarak), dan ukiran kaligrafi. Kain tenun khas Riau antara lain kain tenun Siak dari Siak Sri Indrapura, kain sutera corak lintang dari Siantan, serta kain sutera petak catur dan kain mastuli dari Daik Lingga.
Seniman Tenas Effendy telah berusaha mengungkap motif-motif yang dulu kurang dikenal dalam senirupa Melayu, seperti motif bunga cengkih, pucuk rebung, awan larat, wajik-wajik, bunga kiambang, bunga berembang, bunga hutan, bunga melur, tampuk manggis, cempaka, kunyit-kunyit, pinang-pinang, naga-naga, lebah bergantung, ikan, ayam, sayap layang-layang, siku keluang, dan lain-lain. Seniman ini dikenal sebagai orang yang berikhtiar untuk melestarikan seni bangunan dan seni tradisional Melayu Riau lainnya, termasuk sastra lisan. Motif-motif ukiran dalam kesenian Melayu klasik masih dapat kita lihat dalam bentuk ukiran kaligrafi dari ayat-ayat Al Quran atau syair-syair Arab pada mimbar dan mihrab masjid-masjid tua di seluruh Riau atau pada nisan-nisan lama.
Seni bangunan Melayu yang asli juga masih terdapat di seluruh Riau. Meskipun beragam dan sedikit berbeda, namun semuanya masih memperlihatkan benang merah yang menunjukkan cikal-bakalnya pada masa lampau
B.     SENI MUSIK
Pada budaya Melayu, alat musik digunakan untuk mengiringi tarian atau lagu-lagu tradisional Melayu. Berikut beberapa alat musik tradisional Melayu Riau:
1.      Rebana Ubi
Alat musik ini sangat terkenal sejak zaman kerajaan Melayu Kuno. Rebana ubi sering digunakan saat upacara pernikahan.Selain itu Rebana ubi juga digunakan sebagai alat komunikasi sederhana pada zaman itu karena bunyinya yang cukup keras. Jumlah pukulan pada rebana ubi memiliki makna tersendiri yang telah dipahami oleh masyarakt saat itu.






2. Kompang












Kompang merupakan alat musik Melayu yang paling populer saat ini, kompang banyak digunakan dalam berbagai acara-acara sosial seperti pawai hari kemerdekaan. Selain itu alat musik ini juga digunakan untuk mengiringi lagu gambus. Kompang memiliki kemiripan dengan rebana tetapi tanpa cakram logam gemerincing di sekelilingnya.
3.      Sape
Sape adalah seruling tradisional masyarakat Melayu. Alat musik dibuat dengan bambu panjang yang dilubangi sehingga menghasilkan nada yang indah. Alat musik ini dapat dimainkan dengan cara ditiup. Sape digunakan untuk melengkapi musik tarian tradisional Melayu. Selain itu, sape juga digunakan sebagai pelengkap musik pengiring dari lagu tradisional Melayu. Sampai saat ini alat musik ini masih sering digunakan. Salah satunya adalah untuk mengirinya musik dangdut (perkembangan dari musik Melayu).
4.      Gabus




 Gambus adalah alat musik petik seperti mandolin yang berasal dari Riau. Paling sedikit gambus dipasangi 3 senar sampai paling banyak 12 senar. Gambus dimainkan sambil diiringi gendang. Sebuah orkes memakai alat musik utama berupa gambus dinamakan orkes gambus atau disebut gambus saja orkes gambus mengiringi tari Zapin yang seluruhnya dibawakan pria untuk taripergaulan. Lagu yang dibawakan berirama Timur Tengah. Sedangkan temaliriknya adalah keagamaan. Kini, orkes gambus menjadi milik orang Betawi danbanyak diundang di pesta sunatan dan perkawinan. Lirik lagunya berbahasa Arab, isinya bisa doa atau shalawat. Perintis orkes gambus adalah Syech Albar, bapaknya Ahmad Albar, dan yang terkenal orkes gambus El-Surayya dari kota Medan pimpinan Ahmad Baqi.
5.      Kordeon
Kordeon adalah alat musik yang berasal dari Riau. Alat musik ini bisa
dimainkan dengan cara dipompa. Alat musik ini termasuk sulit untuk
dimainkan. Tidak banyak yang dapat memainkannya.
6. Gendang





Gendang adalah instrumen Riau yang salah satu fungsi utamanya
mengatur irama. Instrument ini dibunyikan dengan tangan, tanpa alat
bantu.Jenis kendang yang kecil disebut ketipung, yang menengah disebut
kendang ciblon/kebar. Pasangan ketipung ada satu lagi bernama kendang
gedhe biasa disebut kendang kalih. Kendang kalih dimainkan pada lagu atau gendhing yang berkarakter halus seperti ketawang, gendhing kethuk kalih, dan ladrang irama dadi. Bisa juga dimainkan cepat pada pembukaan lagu jenis lancaran ,ladrang irama tanggung. Untuk wayangan ada satu lagi kendhang yang khas yaitu: kendhang kosek.Kendang kebanyakan dimainkan oleh para pemain gamelan profesional, yang sudah lama menyelami budaya Jawa. Kendang kebanyakan di mainkan sesuai naluri pengendang, sehingga bila dimainkan oleh satu orang denga orang lain maka akan berbeda nuansanya.
6.      Gong








Gong merupakan sebuah alat musik pukul yang terkenal di Asia
Tenggara dan Asia Timur. Gong ini digunakan untuk alat musik
tradisional. Saat ini tidak banyak lagi perajin gong seperti ini.
Gong yang telah ditempa belum dapat ditentukan nadanya. Nada
gong baru terbentuk setelah dibilas dan dibersihkan. Apabila nadanya
masih belum sesuai, gong dikerok sehingga lapisan perunggunya
menjadi lebih tipis. Di Korea Selatan disebut juga Kkwaenggwari. Tetapi
kkwaenggwari yang terbuat dari logam berwarna kuningan ini dimainkan
dengan cara ditopang oleh kelima jari dan dimainkan dengan cara
dipukul sebuah stik pendek. Cara memegang kkwaenggwari
menggunakan lima jari ini ternyata memiliki kegunaan khusus, karena
satu jari (telunjuk) bisa digunakan untuk meredam getaran gong dan
mengurangi volume suara denting yang dihasilkan.
C.     SENI TARI
1. Tari Tandak, merupakan tari pergaulan yang sangat di gemari di daerah Riau.






2.       Tori Joged Lambak, adalah tari pergaulan muda-mudi, yang sangat populer dan disenangi


 











3.      seni bujang dara Riau adalah sebuah kelompok pemuda-pemudi riau yang tergabung dalam dunia seni tari dan sebuah komunitas seni yang berusaha berkreatif dan berkreatifitas dalam menciptakan sebuah karya yang menambah pembendaharaan tari diriau dan memajukan seni tari sesuai zaman dan mempertahankan yang telah ada.Nama (Bujang Dara Riau) diambil dari kata panggilan untuk remaja riau yang merupakan sebuah ciri khas daerah riau.











D.     SENI TEATER

Teater Melayu yang berkembang di Provinsi Riau anatar lain: Teater Makyong di Kabupaten Bintan tepatnya di Pulau Mantang, Pulau Panjang, Batam; Teater Mendu di Kabupaten Ranai tepatnya di Kecamatan Sedanau dan Ranai; Teater Lang-lang Buana di Kabupaten Natuna tepatnya di Ranai dan Wayang Bangsawan di Daik Lingga, Dabo Singkep, Pulau Penyengat.
Teater dari daerah lain yang berada di Provinsi Kepulauan Riau antara lain seperti: Randai, Ketoprak, Wayang Orang, Dul Muluk dan Manora. Semuanya dikembangkan oleh masyarakat dan suku lain yang berada di provinsi Kepulauan Riau.

1.      TEATER MAKYONG
Teater Makyong adalah salah satu jenis kesenian Melayu yang menggabungkan unsur-unsur ritual, tari, nyanyi, dan musik dalam pementasannya. Dalam pertunjukkannya, Mak Yong mempertemukan antara pemain dan penonton. Kesenian ini berasal dari daerah, yang dari segi budaya, termasuk rumpun Melayu, yaitu daerah Nara Yala, Patani pada sekitar abad ke-17. kemudian menyebar ke daerah Kelantan
(sekitar 200 tahun yang lalu), tetapi tanpa memakai topeng seperti di tempat asalnya. Dari Kelantan ini Mak Yong kemudian menyebar ke Indonesia, yaitu ke daerah Bintan dan Batam melalui Tanjung Kurau (Singapura).
Teater Makyong di Indonesia mengalami kejayaannya pada masa keemasan kesultanan Riau-Lingga dan pada masa sekitar tahun 1950-an. Pada masa kejayaannya ini Mak Yong pernah dianggap sebagai kesenian istana. Akan tetapi, dewasa ini kesenian tersebut tidak hanya menjadi konsumsi kelompok tertentu saja, melainkan sudah menjadi pertunjukkan yang dapat dinikmati oleh masyarakat umum.
Jumlah pemain Mak Yong sekurang-kurangnya 15 orang. Setiap orang terkadang memerankan peran rangkap dengan menukar topeng. Para pemain terdiri atas tokoh utama, seperti Pak Yong, Mak Yong, pangeran yang sering dipanggil dengan istilah Cik Wang, Mak Yong yang sering memerankan sebagai permaisuri yang juga sering dipanggil dengn istilah Mak Senik, Awang pengasuh, dan beberapa orang yang berperan sebagai peran pembantu, seperti: Inang Perempuan Bertopeng, Mamak Bertopeng, Pembatak Bertopeng, dan dayang-dayang. Selebihnya, adalah pemain musik.
Pertunjukkannya membutuhkan panggung terbuka dalam bentuk "tapal kuda", dengan ukuran 8x8 meter, beratap, dan bertiang 6 buah sebagai penopang atap tersebut.
Seperangkat peralatan musiknya terdiri atas: gendang pengibu, gendang penganak, gedombak (dua buah), geduk, gong atau ketawak (dua buah, satu betina dan satunya jantan), mong (dua buah, satu betina dan satunya jantan), breng-breng, cecrek, rebab, anak ayam, dan biola bambu. Peralatan tersebut sering disebut dengan "musik kelantan".
kostum yang digunakan meliputi: baju lengan pendek, celana, kain samping atau dagang, alas dada atau elau, tanjak, selampai, bengkung, pending, sabuk dua helai (untuk Pak Yong Tua dan Muda), kebaya panjang, kain sarung, pending tiga buah (untuk Mak Yong, Puteri, dan dayang-dayang), baju kurung pendek, dan selendang untuk Mak Inang Pengasuh.
perlengkapan pendukungnya adalah rotan pemukul atau bilai yang terbuat dari bambu yang dibelah tujuh, parang, keris, kapak, panah, tongkat kayu, canggai, sembilan kuku palsu, dan beberapa topeng, yaitu topeng: Nenek Betara Guru, Nenek Betara Siwa, Awang Pengasuh, Inang Tua, Inang Muda, Wak Perambun, Mamak-mamak, Wak Pakih Jenang, Wak Dukun, Pembatak, Raja Jin, Peran Hutan, Peran Agung, Apek Kotak, dan beberapa topeng binatang.
urut-urutan pementasannya adalah sebagi berikut: (1) upacara tolak bala dengan cara mengasapi peralatan musik dan perangkat pementasan, (2) upacara semah (buka tanah) atau buang bahasa dengan menanam ramuan khusus ke tanah. Tujuannya untuk menghindari gangguan makluk halus, (3) pementasan dimulai dengan keluarnya Pak Yong, dan (4) pementasan diakhiri dengan tarian Cik Milik.
2.      Teater mendu
Alat-alat musik yang dipakai dalam pertunjukan Mendu ialah gendang panjang, biola, gung, beduk, dan kaleng kosong. Dalam Bangsawan dipakai peralatan orkes Melayu lengkap. Pertunjukan Mendu sangat mengandalkan upacara yang bersifat ritual seperti buka tanah dan semah. Dalam upacara ini digunakan mantra dan serapah.
Untuk sebuah pementasan jumlah pemainnya minimal 25 orang (25--35 orang). Jika jumlah pemainnya hanya 25 orang, maka pengaturannya 5 orang sebagai pemusik, kemudian selebihnya sebagai pemain (pelakon). Jika, karena satu dan lain hal, jumlahnya hanya 20 orang, maka harus ada yang berganti peran pada adegan berikutnya. Lalu, jika jumlah pemainnya lengkap (35 orang), maka setiap orag akan melakukan satu peran tertentu. Dengan perkataan lain, setiap orang hanya dapat melakonkan satu tokoh dalam keseluruhan episode.
Panggung yang diperlukan itu berukuran 4 x 14 meter, berada di areal terbuka, dan terdiri atas tiga bagian, yakni ruang rias, balai penghadapan, dan arena berladun.
Kostum yang dikenakan oleh para pelakonnya adalah baju kurung teluk belanga (laki-laki) dan kebaya (perempuan), atau menyesuaikan peran yang dilakonkan karena tidak ada patokan yangg khusus. Demikian juga perlengkapan pendukungnya.
Pementasan seni pertunjukan yang disebut sebagai Mendu ini tentunya dilakukan secara berurutan. Dan, urutan itu adalah sebagai berikut: pertama, pertunjukan diawali dengan peranta, yakni pemberitahuan bahwa Mendu akan dipentaskan atau dipanggungkan dengan memukul alat-alat perkusi (gong dan kaleng) sekitar 2 jam lamanya; kedua, madah yang dilakukan oleh Syekh Mandu; ketiga, berladun; yaitu seluruh pelakon menari dan bernyanyi bersama membentuk lingkaran. Setelah itu, secara berpasangan, ada yang berjalan dari kiri dan kanan panggung sambil menari dan menyanyi. Selain itu, mereka berpantun yang isinya ucapan selamat datang dan sekaligus permohonan maaf jika sekiranya nanti pertunjukan kurang mengena di hati penonton. Keempat, para pelakon menyanyikan lagu wayat atau hikayat. Kelima, adegan pertama yang menggambarkan susana kerajaan. Adegan ini diiringi oleh nyanyian Numu Satu. Sebagai catatan, setiap adegan diiringi nyanyian. Untuk adegan Dewa Mendu ada beberapa lagu yang dapat dinyanyikan. Lagu-lagu itu ialah: Lamak Lamun, Numu satu, Serawak, Aik Mawa atau Burung Putih. Keenam, pementasan Mendu itu sendiri, dan ketujuh, penutupan yang sering disebut beremas. Artinya, berkemas-kemas untuk pulang. Di sini para pelakon berbanjar dua baris, menari bersama, dan mengucapkan selamat berpisah disertai permintaan maaf kepada penonton, dan saling meminta maaf diantara para pelakon itu sendiri.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar